Alam Ajsam Atau Alam Jasmani Dalam Martabat Tujuh

Alam Ajsam Atau Alam Jasmani Dalam Martabat Tujuh

Alam Ajsam atau alam jasmani adalah alam dimana berada segala tubuh, rupa tubuh, insan, dan rupa kalbu serta roh manusia. Alam ini juga disebut sebagai bagian dari al-Tanazzulat Lil’i- Dhat (peninggalan bagi zat), Alam al-Mahsus (alam rasa), Akhir al-Tanazzulat li’l Dhat (akhir peninggalan bagi zat), Alam al-Sufliyyah (alam dunia), al-Anam (manusia), al-Ajsam (jasmani), al-Shahadah (nyata), al-khalq (manusia).

Di dalam terjemahan Suluk Sujinah, ajaran martabat tujuh yang keenam ini dapat dilihat pada nukilan berikut:

Alam Acesan wujudnya itu dipenuhi badan halus semuanya. Tidak ada batasnya, karena Itu dasar sifatnya. Memang begitu kenyataannya yang disebut jisim nama wujud. Alam ini masih dalam keadaan gaib. Belum lahir wujudnya. Dan, setelah lahir disebut dengan Insan Kamil. Itulah namanya Rasul Allah.

Sementara itu, di dalam terjemahan Serat Wirid Hidayat Jati disuratkan sebagai berikut:

Dharah artinya permata. Tersebut dalam hadits mempunyai sinar beraneka warna, kesemuanya ditempati malaikat. Itulah hakikat budi, yang diakui sebagai perhiasan Dzat. Dan, merupakan pintu atma. Dharah menjadi tempatnya alam Ajsam.

Dalam Suluk Sujinah, alam Acesan adalah tajjaLi Allah yang keenam. Alam Acesan, di dalam martabat tujuh, dipersamakan dengan ajaran alam Ajsam. Alam ini adalah tajjali dari alam Mitsal. Wujud alam Acesan berbentuk segi empat yang dihuni oleh jasmani dalam bentuk hal usalam ini teramat luas, sehingga tidak diketahui di mana batas-batasnya.

Yang mengetahui luas serta batas-batasnya hanyalah Allah Yang Maha Mengetahui. Meski wujudnya dalam keadaan gaib, tetapi alam ini sudah menampakkan bentuk lahir yang ketiga, yaitu wujud yang sudah dapat diindra. Sebab, dasar sifatnya adalah jisim atau tubuh dalam bentuk wadag.

Baca Juga: Alam Mitsal Atau Alam Wujud Martabat Tujuh

Sedangkan, Serat Suluk Hidayat Jati menyebutkan bahwa tajjali Allah yang ke enam disebut dengan Dharah, yang memiliki arti permata. Diceritakan bahwa permata tersebut mengeluarkan cahaya atau sinar yang beraneka warna, di mana setiap warnanya ditempati oleh malaikat yang menjaga pancaran dari sinar tersebut. Dan, disebutkan juga bila hakikat dari Dharah adalah budi, di mana budi dijadikan sebagai perhiasan zat.

Demikian Info dari saya, semoga dengan mengetahui Alam Ajsam yang merupakan tingkatan ke enam dalam martabat tujuh, Anda akan mendapatkan info yang bermanfaat. Insya Allah.

Alam Mitsal Atau Alam Bentuk Martabat Tujuh

Alam Mitsal Atau Alam Bentuk Martabat Tujuh

Alam Mitsal adalah alam bentuk atau perwujudan tentang perencanaan perkembangan manusia, yang diungkapkan sebagai awal Mitsal bagi bentuk zat yang disucikan dengan makna al- Surah alThaniyyah dari al-Tanazzulat li’l Dhat (peninggalan bagi zat). Alam Mitsal terpadat pada Surah Jami al-Ashya al-Kawaniyyah (gambaran segala sesuatu di alam semesta), Surah alRahman (bentuk Rahman), Surah al-Haq (bentuk hak), Surahal-lilah (bentuk lIahi), Surah al-Wujud al-liahi (bentuk wujud lIahi), Surah al-Shu’un (bentuk keadaan), dan Surah al-Ula alZahirah al-Asma (bentuk utama zahir nama-nama).

Di dalam terjemahan Suluk Sujinah, ajaran martabat tujuh tersebut dapat dilihat dalam nukilan berikut:

Tersebutlah alam bertingkat Mitsal, wujud adam terjadinya alam jagad raya yang bersifat kalam, meski pengucap dan pencium, pendengaran dan penglihatan belum terbentuk semuanya. Calon terbentuknya, cerminan mulut, wujud mata, rasa kuping, dan penciuman yang berada dalam hidung.

Sementara itu, dalam Serat Wirid Hidayat Jati disuratkan sebagai berikut:

Kandil: artinya lampu tanpa api, diceritakan dalam Hadits berupa permata yang cahayanya berkilauan, tergantung tanpa kaitan, itulah keadaan Nur Muhammad, dan tempatnya semua ruh. Adalah hakikat angan-angan yang diakui sebagai bayangan Dzat, yang menjadi bingkai atma dan menjadi tempatnya alam Mitsal.

Alam Mitsal adalah alam perencanaan tentang perkembangan manusia, di mana tiap diri insan ada di dalam ilmu Allah. Alam ini adalah alam ide dan merupakan perbatasan antara alam Arwah dan alam Jisim. Dan, alam Mitsal adalah sebagai awal wujud fisik manusia serta makhluk lainnya.

Baca Juga:  Alam Arwah atau Alam Malakut Tingkatan Martabat Tujuh

Walau keadaannya sudah mempunyai sifat, bentuk, dan warna, tetapi belum bisa dikenali, baik secara batin maupun lahir. Dalam Serat Wirid Hidayat Jati, disebutkan pula bahwa Kandil adalah tajjali Allah yang kelima.

Setelah Allah bertajjali dalam alam Ruh Idlafi, kemudian Dia ber-tajjali dalam alam Kandil, yang dalam tata bahasa mempunyai arti lampu. Angan-angan diibaratkan sebagai Kandil atau lampu yang tergantung tanpa kaitan. Bila dipersamakan dengan ajaran marta bat tujuh, Kandil digambarkan sebagai alam Mitsal nafsu atau Kandil merupakan tajjali ruh, karena menerima sinar dari suksma atau Ruh Idlafi.

Kandil juga digambarkan sebagai api yang berkobar di tengah lautan. Artinya, suatu keajaiban bila api dapat menyala di tengah-tengah lautan. Oleh karena itu, dalam martabat ini disebut Ayan Mukawiyah, karena telah benar-benar hidup keadaannya.

Dan, nafsu atau Kandil bermakna angkara yang terletak di luar suksma. Demikian Info tentang Alam Mitsal dalam Tingkatan martabat Tujuh. Mudah-mudahan memberikan Anda ilmu yang bermanfaat. Wassalam.

Alam Arwah atau Alam Malakut – Tingkatan Martabat Tujuh

Alam Arwah atau Alam Malakut – Tingkatan Martabat Tujuh

Alam Arwah disebut juga dengan Alam Malakut yaitu alam al-Arwah (alam ruh) yang hampa bagi manusia. Alam ini dihuni oleh para Jin dan Malaikat, yang juga dinamakan sebagai alam al-Malakut al-Adna (alam yang terdiri dari akal dan jiwa yang rendah), awwal al-Tanazzulat li’l-Dhat al-Mujarrad al-Basit (alam peninggalan terhadap kehampaan yang menengah), serta al-Martabat al-Imkaniyyah (marta bat kekuatan).

Alam ini juga biasa disebut sebagai alam al-Af’al (alam perbuatan Allah), al-Ta-thirat (alam kenyataan), alam Ghayb (alam gaib), alam al-Amr (alam yang diciptakan Allah tanpa perantara), dan al-Ashya al-Kawiyyah (segala sesuatu di alam semesta).

Hal tersebut tersurat secara jelas di dalam Suluk Sujinah, seperti versi terjemahannya berikut:

Hakiki alam arwah dimulai dengan wujud nurani yang disebut af’al, yang sifatnya kudrat kuasa. Zat Nur Muhammad yang agung mendahului namadan penciptaan arwah. Nur Muhammad juga dinamakan rasa. Hakikatnya adalah Rasul Allah, yang sudah menyatu, tunggal. Yang mana, hakiki Muhammad. Ketahuilah oleh kamu dengan jelas bahwa nama Muhammad ada dalam kesatuan atau ketunggalan dengan Allah. Itulah hakikat yang sesungguhnya, dan kemudian bernama Nabi Muhammad. Mengenai kejadian terbentuknya Nur Muhammad, hendaknya dimengerti yang wujud, khayal, dan hak. Jangan sembrono. 

Sementara itu, Serat Wirid Hidayat Jati menyebutkan dalam versi terjemahan sebagai berikut:

Ruh Idlafi, artinya nyawa yang jernih. Diceritakan dalam Hadits berasal dari Nur Muhammad. Itulah hakikat suksma yang diakui keadaan Zat, yang merupakan af’al atma, menjadi tempatnya alam Arwah. Oalam martabat ini ditandai dengan keberadaan al-Arwah dalam bentuk jamak. Sejatinya, semua ruh dibentuk dan berasal dari alam al-Arwah.

Alam al-Arwah yang berwujud nurani adalah alam yang diciptakan oleh Allah tanpa perantara. Allah menciptakan melalui perbuatanNya sendiri yang disebut dengan af’al-Allah menciptakan al-Arwah dari uap pilihan yang bersumber dari Jauhar. Di samping itu, al-Arwah dibentuk oleh nur, sifat kebakaan, hayat, ilmu, dan dari alam Uluwwi.

Tentang alam al-Arwah, tak ada sesuatu yang mengetahui keberadaannya. Kerahasiaan dan keberadaan alam al-Arwah hanya Tuhan yang bisa menyingkap tabirnya. Sebab, jika tidak dirahasiakan, maka sujudlah semua kafir kepada-Nya, karena semua makhluk hidup yang ada berasal dari alam Uluwwi yang hakikatnya adalah murni.

Dengan kata lain, al-Arwah berasal dari Zat Hak Ta’ala. Intinya, di dalam alam ruh al-Arwah, semua arwah terjadi dari padanya, di mana wujudnya masih dalam bentuk kejamakan. Di dalam alam ini belum ada individualisasi kehidupan bagi makhluk. Oleh karena itu, segala bentuk kehidupan, baik malaikat, manusia, hewan, maupun tumbuhan berasal dari alam al-Arwah.

Tingkatan Alam Arwah

Tingkatan alam arwah digolongkan dalam empat kelompok, yakni:

  • Ruh Namiya,
  • Ruh Mutaharrika,
  • Ruh Natika,
  • dan Ruh Kudus.

Ruh Namiya adalah ruh yang membentuk kehidupan manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Tugasnya ialah memelihara dan menumbuhkan.

Ruh Mutaharrika adalah ruh yang kelak bersemayam dalam diri manusia dan hewan. Ruh Mutaharikka juga disebut sebagai ruh hewani, sebab semua hewan bergerak karenanya. Sementara,

Ruh Natika yang disebut juga sebagai ruh insani adalah pencipta dan penggerak kehidupan man usia. Ruh Natika berasal dari alam Amr, tempat asalnya ruh dan nafsu yang merupakanpralambang dari Adam dan Hawa.

Sedangkan, yang disebut dengan Ruh Kudus adalah fa’id nur zat Allah, ruh yangmerupakan penggerak bagi semua nabi dan rasul yang bersifat mukjizat dan keramat. Disebut fa’id nur zat Allah karena ruh tersebut terbuat dari cahaya pilihan.

Sehingga, manusia-manusia tersebut paham dan mengetahui berbagai hal yang tersembunyi (yang bersifat batin), sebab jiwa mereka tidak terpengaruh atau terbebas dari hal-hal yang bersifat batil. Alam Arwah terbentuk dari tajjali dan penyinaran dari Nur Muhammad dari Zat lIahi. Dalam alam kabir tersebut, alam besar, Nur Muhammad menerangi segala alam serta nur semua makhluk Allah yang hidup dan bergerak.

Baca Juga: Martabat Wahadiyah Tingkatan Martabat Tujuh

Nur tersebut meliputi alam. Tiada satu daerah pun yang tidak dilingkarinya. la yang memelihara alam dan melingkarinya. Nur Muhammad yang juga hakikat rasa, adalah wali Allah, dan keduanya tak dapat dipisahkan. Keduanya dalam bentuk nama yang berbeda, namun hakikatnya adalah kesatuan Nya. Keduanya ada dalam kesatuan.

Demikian Penjelasan saya tentang Alam Arwah dalam tingkatan martabat tujuh. Semoga dapat memberikan Anda ilmu yang bermanfaat, wassalam.

Martabat Wahadiyah – Tingkatan Martabat Tujuh

Martabat Wahadiyah – Tingkatan Martabat Tujuh

Martabat Wahadiyah adalah Wahadiyah atau yang biasa diungkapkan dengan kata-kata A’yan Thabitah (realitas-realitas terpendam). Pada tingkatan ini, Zat-Nya ber-tajjali lewat nama-namaNya yang dikenal dengan Asma’ul Husna, di mana Tuhan mulai muncul dalam al-A’yan Thabitah atau realitas-realitas terpendam yang sudah tidak mengandung kejamakan.

Di sini, segala sesuatu yang terpendam sudah dibedakan dengan tegas dan terperinci, meskipun Zat-Nya belum muncul dalam wujud kenyataan. dalam Serat Wirid Hidayat Jati tertulis, “Miratul Haya’i, artinya kaca wara’i. Diceritakan di dalam Hadits, bila alam tersebut terdapat di depan Nur Muhammad. Itulah hakikat pramana, yang disebut rahsa zat, sebagai asmanya atma dan menjadi tempatnya alam wahadiyah.

Martabat Wahadiyah Tentang Syahadat dan Asmaul Husna

Di dalam Martabat Wahadiyah, Allah berada dalam kesejatian-Nya yang dikenal dengan ucapan Tiada Tuhan selain Allah. Persaksian eksistensi-Nya adalah hal yang berada dalam kedudukan yang tertinggi. Wujud Tuhan masih dalam kekosongan yang mutlak, meski Allah sudah mulai memberikan pengetahuan lewat nama-nama-Nya satu per satu.

Dalam kalimat persaksian tersebut, keluhuran-Nya terbagi dalam dua pengetahuan. Persaksian yang pertama mengandung syahadat tauhid, sedangkan yang kedua adalah syahadat rasul. Pengertian syahadat tauhid berbunyi, ‘Ashadu ala iIIaha iIIallah’, yang bermakna saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Kalimat ini sering disebut dengan kalimat takwa. Allah adalah al-Falakiyyah al-Huliyyah, yaitu, eksistensinya berada dalam tahap tertinggi. Dia adalah kehidupan yang tertinggi.” Masih menurut Serat Wirid Hidayat Jati, tajjali Allah yang ketiga adalah Mir’atul Haya’i yang tercipta dari alam Nur Muhammad. Maka, dalam alam Mir’atul Haya’ i yang dipersamakan dengan pramana, sir, atau rahsa disebut juga sebagai tajjali dari alam Nur Muhammad.

Pramana atau sir adalah suatu zat yang berada di dalam tubuh manusia. Zat tersebut tiada turut bersedih, susah, makan dan minum, ataupun segala kegiatan yang berwujud fisiko Makanan danminuman utama pra,,?ana adalah dzikir atau menciptakan rasa ingat kepada Allah dengan melakukan doa-doa atau halhal yang bersifat religius.

Baca Juga: Martabat Wahidiyah Tingkatan Martabat Tujuh

Pada dasarnya, fungsi utama pramana di dalam tubuh adalah untuk menegakkan jasmani. Jadi, apabila pram ana berpisah dengan tubuh, maka tubuh akan menjadi lemah dan lemas, tidak berdaya apa-apa. Hal ini disebabkan pramana adalah rahsa zat, dan pramana mendapat hidup dari Nur Muhammad yang dijadikan sebagai perantaranya hayyu.

Demikian penjelasan saya Martabat Wahadiyah, semoga dapat memeberikan Anda ilmu yang bermanfaat. Wassalam.

Martabat Wahidiyah – Tingkatan Martabat Tujuh

Martabat Wahidiyah – Tingkatan Martabat Tujuh

Martabat Wahidiyah adalah Wahidiyah atau al-Wahdah, yaitu al-Ta’ayyun Awal. martabat kedua adalah Wahdah. Nama-nama sifat yang awal diuraikan. Awalnya, ruh yang akan menguraikan nama-nama roh yang wujudnya masih dalam bentuk hak.

Dan, cahaya-Nya dinamakan Nur Muhammadiyah. Wujud ilmu dari nur adalah ibadah pengetahuan yang sejati yaitu dalam tingkatan Wahdah. Pangeran, Allah, dalam wujud yang jamak, tetapi diri-Nya adalah Semuanya. Tak ada Pangeran selain Allah, Dia hanya Allah yang tunggal wujud-Nya. Dia yang memberikan penghidupan. Dia yang menjadikan sesuatu.

Nah, sementara ruh adalah lambang pertama yang mendahului segala penciptaan-Nya. Ruh dalam tingkatan ini bersifat al-Ruh, yaitu ruh yang universal atau ruh dalam kejamakan-Nya. Tuhan menciptakan hakikat Muhammadiyah ibarat penciptaan-Nya terhadap pena yang agung, yaitu al – Qalam al-Ala.

Ciptaan Allah Pertama pada Martabat Wahidiyah

Menurut hadits, pertama kali wujud yang diciptakan Allah adalah ruh. Pada tingkatan ini belum ada penguraian atau pembedaan zat. Zat-Nya adalah sifat umum Nya. Bahkan, dalam mulanya hanya dikenal empat hal yang tak dapat suatu perkembangan Allah dari hakikat yang tidak terinci lewat hakikat yang mempunyai sifat-sifat.

Dan pengetahuan-Nya dikatakan menuju perkembangan pengetahuan tentang berbagai rincian dari Ada -Nya Allah dalam karya-Nya yang disebut kenyataan ada-Nya Nur Muhammad. Konsep adanya Nur Muhammad sebagai kenyataan karya Allah dalam tajjali-Nya pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan oleh Husin bin Mansur al-Hallaj, seorang sufi kelahiran Parsi yang kemudian menjadi tokoh sentral dalam pengembangan Wadhatul al Wujud.

Dipisahkan antara satu dengan lainnya, yaitu ilmu, wujud, syuhud, dan nur. Keempat hal tersebut merupakan satu kesatuan atau manunggal.

  • Karena dari ilmu-Nya, maka alim dan mak’lum menjadi nyata
  • Karena wujud, maka yang mengadakan dan yang diadakan menjadi nyata
  • Karena syuhud, maka yang melihat dan yang dilihat menjadi nyata
  • Karena cahaya-Nya, maka yang menerangkan dan yang diterangkan menjadi nyata

Keempat hal tersebut merupakan awal mulanya ialah dari adanya hakikat Muhammadiyah atau Nur Muhammad. Nur Muhammad adalah asalnya zat yang Hadrah al-‘Ama’iyyah, yaitu hadrah yang tidak diketahui. Allah ada dalam kenisbian – Nya, atau ada-Nya dalam ketiadaan.

Pada perkembangan selanjutnya, para sufi pun percaya bila Nabi Muhammad memiliki dua rupa. Rupa pertama disebut dengan qadim. Rupa qadim adalah wujud yang terawal dari adanya segala zat, ia tak terikat atau terpengaruh oleh masa. la telah terjadi sebelum terjadinya semua yang ada. Rupanya yang qadim itulah sumber terciptanya segala nabi, rasul, dan aulia.

Baca Juga: Martabat Ahadiyah – Tingkatan Martabat Tujuh

Cahayanya menyinari segala kehidupan, dan tak ada cahaya yang lebih terang daripada Nur Muhammad. Rupa kedua dinamakan ajali. Ajali adalah rupa dari Muhammad yang berwujud sebagai manusia, yang terikat oleh masa dan mengalami pemusnahan. la juga mengalami suka duka, kecewa, bercita-cita, serta bergaul dengan manusia lainnya. 

Sementara itu, dalam Serat Wirid Hidayat Jati, Nur Muhammad dikatakan sebagai tajjali Allah yang kedua. Setelah Allah ber-tajjali dalam alam Ahadiyah, kemudian dijadikanlah Nur Muhammad. Nur tersebut terbuat dari permata putih yang bening dan berasal dari alam Jabarut.

Adapun wujud dari nur tersebut adalah seperti burung merak. Setelah Allah menciptakan Nur Muhammad yang wujudnya seperti burung merak, kemudian diletakkanlah burung merak tersebut di dahan pohon kehidupan yang disebut Syajaratul Yakin.Nur Muhammad adalah bakal wajib dari segala kehidupan yang sifatnya masih gaib.

Pengertian gaib di sini adalah belum dapat dilihat dengan indra, karena sifatnya dalam keadaan batin. Di sam ping itu, zat Nur Muhammad masih dalam kesatuan yang manunggal dengan zat-Nya.

Demikian info saya tentang Martabat Wahidiyah, semoga memberikan Anda ilmu yang bermanfaat. Wassalamualaikum Wr Wb.

Martabat Ahadiyah – Tingkatan Martabat Tujuh

Martabat Ahadiyah – Tingkatan Martabat Tujuh

Martabat Ahadiyah – Martabat Ahadiyah merupakan martabat tertinggi ketuhanan yang digambarkan sebagai Zat yang tidak bisa disebut dengan nama apa pun. Inilah Tuhan sejati bagi semua manusia yang tidak memandang bangsa dan agama. Dalam Islam, hal ini sering disebut keadaan kunhi Dzat atau Zat semata. Sementara, para sufi Jawa yang banyak dipengaruhi oleh filsafat Hindu menyebutnya dengan istilah “Aku”. 

Dalam martabat ini, tidak ada sesuatu pun selain Zat Tuhan. Semua keadaan alam semesta kosong hampa, sunyi senyap, serta tidak ada sifat, nama, atau perbuatan. Karena itu, Ibnu ‘Arabi pernah melontarkan gagasan tentang kesatuan semua agama. Hal ini diterima jika dipandang dalam keadaan ini, yaitu keadaan “Aku” semata. Dalam tingkatan marta bat ini, Allah berada dalam kondisi Ghayb al-Ghuyub, yaitu keberadaan-Nya yang gaib.

Allah tak dapat diindrawi, karena Dia tidak membeberkan tentang kenyataan yang fisiko Allah dalam keadaan yang tak berwujud, yang tak dapat dideteksi oleh manusia atau para wali, nabi, bahkan para malaikat terdekat-Nya. Sebab, Dia masih dalam kesendirian-Nya. Allah belum menguraikan atau menciptakan sesuatu. Dalam derajat ini, semua sifat umum berkumpul melebur di dalam diri-Nya. Perbedaan sifat pun ada dalam kesatuan-Nya.

Tuhan dalam alam pertama disebut juga al-Unsur Adam, Allah adalah unsur yang pertama, dan tak ada makhlukmakhluk lainnya yang mendahului. Diri-Nya adalah unsur yang terdahulu, yang bersifat agung. Zat-Nya adalah substansi universal dan hakikat-Nya tak dapat dipahami. Dalam sifat Adam-Nya, hakikat-Nya tidak dapat dipahami. Sebab, awalnya adalah Ada dalam ketiadaan, dan ketiadaan-Nya adalah hakikat yang tak terlukiskan dan tak dapat dimengerti oleh siapa pun. Hakikat-Nya di luar segala perumpamaan dan pencitraan yang memungkinkan.

Tingkatan Martabat Ahadiyah

Alam Ahadiyah terbagi dalam empat tingkatan, yaitu La, Nafi Uslub, Tahlil, dan Ahadiyah Tasbih.

La

Tingkatan pertama dikenal dengan kata La, yang bersemayam di dalam kata illa. La dan illa adalah dua kata yang manunggal, karena setiap realitas hanya merupakan refleksi dari realitas-realitas Allah. La dan illa menunjukkan pada asal segala sesuatu, yaitu dalam ketiadaan-Nya, diri-Nya Ada. Adapun pengertian illa menunjukkan pada kembali sesuatu dalam kesatuan-Nya yang bersifat keabadian. Jika memperhatikan tatanan ontologis, bila diterapkan, La dan illa akan mengisyaratkan pemisahan antara ada lIahi dan para mahluknya. Tiada Tuhan selain Allah.

Nafi Uslub

Tingkatan kedua dari alam Ahadiyah adalah Nafi Uslub, yaitu tingkat ketiadaan-Nya yang ada. Dalam ketiadaan-Nya, Allah tak dapat digambarkan atau dilukiskan oleh siapa pun. Allah dalam keadaan al-Ama, yaitu tingkatan yang tak dapat diketahui. Dalam tingkatan ini, Allah hanya mempunyai hubungan murni dalam hakikat dan tanpa bentuk.

Tahlil

Tingkatan ketiga dalam alam Ahadiyah adalah Tahlil. Tahlil berarti kondisi Tuhan yang bermakna La illa ha iIalIah. Selain itu, Tahlil juga bermakna suatu kondisi pemujaan Allah dengan pengucapan syahadat tentang persaksian akan keberadaanNya. Dalam kalimat syahadat yang diucapkan dengan niat bulat, berarti pengucapnya (pembacanya) mengakui bahwa Allah berkuasa sendirian, tidak menghendaki pertolongan dari siapa pun, dan Dia suci serta kaya.

Kalimat syahadat adalah kalimat yang wajib bagi pemeluk Islam, di mana intinya adalah pengakuan akan adanya Allah yang menjadi pemimpin kehidupan, di sam ping adanya pengakuan rasul Allah, yaitu Nabi Muhammad Saw. sebagai utusan-Nya.

Ahadiyah Tasbih

Tingkatan keempat dalam alam Ahadiyah adalah Ahadiyah Tasbih, yang bermakna Maha luas Allah. Tingkatan ini berintikan kalimat Subhanallah, yang bermakna mahasuci Allah sekaligus sebagai sarana untuk mengingatkan dan menunjukkan seluruh keyakinan agar selalu mempersucikan- Nya.

Sementara itu, dalam Serat Wirid Hidayat Jati, ajaran pertamanya dikenal dengan sebutan Sajaratul Yakin. Yaitu, sebagai lambang pohon kehidupan, yang dalam bahasa Jawa disebut dengan Kajeng Sejati, dan memiliki pengertian tentang kehidupan atau hayyu. Hayyu berarti atma, jiwa, atau ruh. Dalam Sajaratul Yakin, Allah adalah Wujud al-Sirf, yakni kondisi wujud yang utama. Atma-Nya belum tersifati, namun ruh-Nya adalah al-Lahut (bersifat keilahian).

Dia merupakan hakikat zat mutlak dan qadim, yaitu asal zat dari segala zat yang bersifat abadi. Zat-Nya tak ada dalam penguraian. Segala penguraian-Nya bersifat negatif, karena Allah bersifat Makiyyah al-Makiyyah, yaitu inti dari segala zat yang ada di kemudian hari.

Atma-Nya adalah esa dari yang tak teruraikan dan diuraikan. Zat ruh-Nya sesungguhnya adalah zat yang bersifat esa. Ruh itulah sejatinya Tuhan yang Mahasuci. RuhNya adalah subjek absolut (kekal), di mana benda yang termasuk subjek individu hanyalah ilusi. Sebab, Allah adalah Kunh al-Dzat, asalnya zat terbentuk.

Baca Juga : Martabat Tujuh Tentang Manusia dan Tuhanya

Demikian artikel tentang Martabat Ahadiyah, semoga dapat memberikan anda ilmu yang bermanfaat dan barokah. Wassalamualaikum Wr Wb.

Konsep Martabat Tujuh Tentang Manusia dan Tuhannya

Konsep Martabat Tujuh Tentang Manusia dan Tuhannya

Martabat Tujuh adalah hubungan antara manusia dan Tuhannya yang berkaitan dengan penciptaan alam semesta dan kemusnahannya. Masyarakat kejawen dan kaum sufi islam menganut suatu paham atau konsep yang disebut martabat tujuh.

Konsep martabat tujuh ini berhubungan erat dengan paham tanazzul dan tajalli. Konsep martabat tujuh merupakan tingkatan-tingkatan perwujudan melalui tujuh martabat, yaitu:

  • Ahadiyah
  • Wahdah
  • Wahidiyah
  • Alam Arwah
  • Alam Mitsal
  • Alam Ajsam
  • Alam Insan

Para cendekiawan martabat tujuh di Jawa mengenal ungkapan “lha dudu iku iya iki, sejatine iku iya” (bukan itu iya ini, sesungguhnya memang iya), yang artinya bahwa hakikat ini dan itu adalah sama, itu-itu juga.

Ungkapan ini, menurut Haji Hasan Musthafa, seorang ulama dan pujangga Islam yang banyak menulis masalah agama dan tasawuf dalam bentuk guritan (pusisi yang berirama dalam bahasa Sunda).

Beliau menyebutkan “aing da itu, disebut itu da aing (apabila dikatakan aku kenyataannya itu, dan apabila dikatakan itu kenyataannya aku). Atas dasar pemahaman terhadap ungkapan-ungkapan inilah, banyak tokoh yang mengidentikkan ajaran martabat tujuh dengan wahdah al-wujud (manunggaling kawula Gusti).

Konsep ajaran martabat tujuh mengenai penciptaan alam manusia melalui tajjali Tuhan sebanyak tujuh tingkatan jelas tidak bersumber dari al-Qur’an. Sebab, dalam Islam, tidak dikenal konsep ber-tajjali. Islam mengajarkan tentang proses Tuhan dalam penciptaan makhluk-Nya dengan Alijad Minaj Adam, berasal dari tidak ada menjadi ada.

Sejarah Munculnya Konsep Martabat Tujuh

Konsep martabat tujuh di Jawa dimulai sesudah keruntuhan Majapahit dan digantikan dengan Kerajaan Demak Bintara yang menguasai Pulau Jawa. Pada awal perkembangannya, ajaran martabat tujuh di Jawa berasal dari konsep martabat tujuh yang berkembang di Tanah Aceh-terutama yang dikembangkan oleh para ahli sufi yaitu Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai, dan Abdul Rauf.

Ajaran Syatariyah

Ajaran Syamsudin Pasai dan Abdul Rauf tampak besar pengaruhnya dalam perkembangan kepustakaan Islam kejawen. Pengaruh Abdul Rauf berkembang melalui penyebaran ajaran tarekat Syatariyah yang disebarkan oleh Abdul Muhyi (murid Abdul Rauf) di Tanah Priangan. Ajaran tarekat Syatariyah segera menyebar ke Cirebon dan Tegal. Dari Tegal, muncul gubahan Serat Tuhfah dalam bahasa Jawa dengan sekar macapat yang ditulis sekitar tahun 1680.

Sampai saat ini sejarah menyimpulkan, dengan cara menggali informasi pada masa lalu. Ajaran martabat tujuh pertama kali dikemukakan oleh Ibnu Fadhilah, seorang sufi dari India. Ajaran ini dipengaruhi oleh Ibnu ‘Arabi yang diadopsi oleh para sufi di Tanah Jawa, salah satunya oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita. Menurut ajaran martabat tujuh, Tuhan menampakkan diri dalam tujuh tingkatan atau martabat, sebagaimana telah disebutkan di atas.

Tingkatan Martabat Tujuh

Seperti yang saya utarakan diatas, berikut ini tingkatan-tingkatan dari martabat tujuh:

Martabat Ahadiyah

Martabat pertama adalah martabat Ahadiyah yang diungkapkan sebagai Martabat Lata’ayyun atau al-Ama (tingkatan yang tidak diketahui).

Martabat Ahadiyah merupakan martabat tertinggi ketuhanan yang digambarkan sebagai Zat yang tidak bisa disebut dengan nama apa pun. Inilah Tuhan sejati bagi semua manusia yang tidak memandang bangsa dan agama. Lebih Lengkap Tentang Martabat Ahadiyah Silahkan klik Disini <<<

Martabat Wahidiyah

Martabat kedua adalah Wahidiyah atau al-Wahdah, yaitu al-Ta’ayyun Awal. Tingkat perbedaan pertama atau awal ada dalam tingkatan ini. Artinya, pada tingkatan ini mulai terlihat adanya batas perbedaan. Meskipun ada tingkat perbedaan awal, namun Zat-Nya masih dalam keadaan universal yang menyatu dalam alam ketuhanan-Nya, yang disebut ai-Marta bah lIahiyyah. Lebih Lengkap Tentang Martabat Wahidiyah Silahkan klik Disini <<<

Martabat Wahadiyah

Martabat ketiga di dalam martabat tujuh adalah Wahadiyah atau yang biasa diungkapkan dengan kata-kata A’yan Thabitah (realitas-realitas terpendam), hakikat Adam, Ma’iumat lIahiyah (ketentuan yang bersifat ketuhanan), alTa’ayyun al-Thani (tingkatan perbedaan kedua), al- Ta’ayyunat al-Kuliyyah (realitas-realitas yang universal).

Pada tingkatan ini, Zat-Nya ber-tajjali lewat nama-namaNya yang dikenal dengan Asma’ul Husna, di mana Tuhan mulai muncul dalam al-A’yan Thabitah atau realitas-realitas terpendam yang sudah tidak mengandung kejamakan. Di sini, segala sesuatu yang terpendam sudah dibedakan dengan tegas dan terperinci, meskipun Zat-Nya belum muncul dalam wujud kenyataan. Allah dalam alam Wahadiyah mulai memperkenalkan namanama-Nya.

Kalimat yang luhur ditandai dengan kalimat syahadat, yaitu kalimat pengetahuan tentang Diri -Nya, di mana pengertian kalimatnya dibagi dua. Kalimat pertama adalah pengetahuan tentang hakikat Allah yang mencipta jagat raya. Sedangkan, pengetahuan yang kedua yaitu tentang Muhammad. Lebih Lengkap Tentang Martabat Wahadiyah Silahkan klik Disini <<<

Alam Arwah

Martabat yang keempat adalah alam al-Arwah (alam ruh) yang hampa bagi manusia, yang juga dinamakan sebagai alam al-Malakut al-Adna (alam yang terdiri dari akal dan jiwa yang rendah), awwal al-Tanazzulat li’l-Dhat al-Mujarrad al-Basit (alam peninggalan terhadap kehampaan yang menengah). Hakiki alam arwah dimulai dengan wujud nurani yang disebut af’al, yang sifatnya kudrat kuasa. Zat Nur Muhammad yang agung mendahului nama dan penciptaan arwah. Nur Muhammad juga dinamakan rasa. Hakikatnya adalah Rasul Allah, yang sudah menyatu, tunggal. Lebih Lengkap Tentang Alam Arwah Silahkan klik Disini <<<

Alam Mitsal

Martabat kelima dari martabat tujuh adalah Alam Mitsal adalah alam perencanaan tentang perkembangan manusia, di mana tiap diri insan ada di dalam ilmu Allah. Alam ini adalah alam ide dan merupakan perbatasan antara alam Arwah dan alam Jisim. Dan, alam Mitsal adalah sebagai awal wujud fisik manusia serta makhluk lainnya. Lebih Lengkap Tentang Alam Mitsal Silahkan klik Disini <<<

Alam Ajsam

Martabat keenam adalah Alam Ajsam atau alam jasmani. Alam ini juga disebut sebagai bagian dari al-Tanazzulat li’l- Dhat (peninggalan bagi zat). Wujud alam Ajsam berbentuk segi empat yang dihuni oleh jasmani dalam bentuk halus. Alam ini teramat luas, sehingga tidak diketahui di mana
batas-batasnya, yang mengetahui luas serta batas-batasnya hanyalah Allah Yang Maha Mengetahui. Meski wujudnya dalam keadaan gaib, tetapi alam ini sudah menampakkan bentuk lahir yang ketiga, yaitu wujud yang sudah dapat dilihat dengan Mata Batin. Lebih Lengkap Tentang Alam Ajsam Silahkan klik Disini <<<

Alam Insan Kamil

Martabat ketujuh adalah Alam Insan Kamil, yakni alam manusia dalam kesempurnaannya. Alam ini disebut juga sebagai Akhir al-Tanazzulat (akhir peninggalan). Di dalam alam ini, Insan Kamil adalah wakil Allah di bumi untuk mengelola alam beserta segala isinya. la juga bergelar sebagai khalifah di bumi. Lebih Lengkap Tentang Alam Insan Kamil Silahkan klik Disini <<<

Demikianlah konsep ajaran martabat tujuh. Dengan memahami konsep martabat tujuh ini, kita menjadi tahu bagaimana hubungan antara manusia dengan Tuhannya dalam konsep kaum sufi dan kejawen. Semoga Bermanfaat. Wassalamualaikum Wr Wb

Mengenal Apa itu Santet Dalam Kejawen

Mengenal Apa itu Santet Dalam Kejawen

Ilmu Santet Adalah sebuah ilmu untuk menyakiti orang lain dengan menggunakan media jin atau sejenisnya. Ada juga yang mendefinisikan santet dengan setiap perbuatan yang dilakukan oleh diri sendiri atau atas bantuan orang lain untuk mengganggu, mencelakai orang yang dianggap musuh, bahkan membunuhnya dengan cara tidak terang-terangan. Secara umum, santet terbagi menjadi dua macam, yakni santet kasar dan santet halus.

Santet kasar misalnya dengan menggunakan racun atau ramuan tertentu yang dapat mengakibatkan kerusakan fungsi tubuh bahkan kematian. Sedangkan, santet halus misalnya dengan menggunakan peranti gaib, seperti pusaka, jin/perewangan, gendam/hipnotis jarak jauh, dan sebagainya.

Intinya, menurut kejawen, santet adalah gangguan pada tubuh manusia yang dilakukan oleh setan atas perintah manusia yang lain, dikarenakan faktor dendam, iri, dengki, persaingan antarmanusia, dan lain-lain. Santet ini pun bentuknya sangat bervariatif yang kebanyakan juga dapat berupa penyakit fisik, dari yang kasar sampai yang sangat halus sehingga si korban tidak akan menyadari bahwa dirinya telah terkena santet bahkan hingga berpuluh-puluh tahun.

Jenis-jenis dan Cara Kerja Ilmu Santet

Santet memiliki jenis yang dibedakan dari cara mengirimnya, berikut ini beberapa jenis ilmu santet yang ada di Indonesia

Santet Analogi

Ilmu ini menggunakan kekuatan pikiran, disebut santet analogi. Yaitu, ketika memancarkan energi gaib, ia membayangkan sasaran benda dalam genggaman tangannya, apakah itu boneka yang ditusuk tusuk. Dengan begitu target akan merasa tertusuk layaknya bonekas santet tersebut

Santet Dematrialisasi

Santet ini menggunakan kemampuan merubah materi menjadi energi (dematrialisasi) lalu diarahkan pada sasaran. Cara kerja dematrialisasi ini hampir sama dengan tenaga dalam, namun bisa juga meminta bantuan dari mahluk halus/Jin. Pada santet tipe ini memakai jasa seorang kurir yaitu mahluk halus. Jika target sampai terkena ilmu ini, maka dia akan mutah darah, sakit perut, perut kembung dan masih banyak lainnya.

Santet Murni

Ilmu ini menggunakan bantuan roh-roh jahat. Dalam prakteknya, isu santet jauh lebih berbahaya dibanding santet itu sendiri. Para jin suruhan inilah yang langsung ditugaskan untuk “mengerjai” sang korban, Si Jin itu mengerjai bisa dengan berbagai cara, mengganduli (orang / korban itu seperti sedang menggendong sesuatu yang berat), memeluk, mencekik, menduduki, sehingga korban akan susah bernapas, pusing, badan terasa berat, susah tidur.

Baca Juga : Sedulur Papat Limo Pancer – Siapakah Kakang Kawah Adi Ari Ari

Ada juga nama lain dari santet. Mungkin anda pernah mendengar tentang Teluh, Tenung dan guna-guna. Ada sedikit perbedaannya dengan santet. Berikut ini perbedaanya:

Guna-guna

Guna-guna adalah salah satu cara melakukan penyerangan terhadap seseorang melalui perantaraan jin/setan secara jarak jauh. Salah satu jenis sihir ini sudah ada sejak zaman dahulu dan masih sering digunakan oleh dukun-dukun penganut ilmu hitam hingga sekarang. Guna-guna akan menyerang akal pikiran seseorang, sehingga dia akan menjadi hilang akal.

Teluh

Teluh adalah salah satu metode penyerangan yang dilakukan secara jarak jauh yang menggunakan sarana unsur yang bernyawa misalkan ular atau kalajengking. Cara kerja dari teluh tidak jauh beda dengan santet dan tenung. Yaitu, membangkitkan dan mengirim energi negatif melalui kekuatan batin dengan perantaraan jin/setan.

Seseorang yang menjadi target dari teluh akan menderita penyakit aneh. Dikatakan aneh karena ketika diperiksakan ke dokter (dianalisa secara ilmiah) tidak ditemukan penyakit apapun. Tapi, sakit tersebut selalu kambuh dan tambah menjadi-jadi.

Tenung

Merupakan ilmu kembangan dari Santet dan Teluh namun lebih mengerikan, ilmu ini bekerja melewati dalam tanah sehingga mampu membuat lantai rumah menonjol, pecah, dan retak retak.

 

Sedulur Papat Limo Pancer – Siapakah Kakang Kawah Adi Ari Ari

Sedulur Papat Limo Pancer – Siapakah Kakang Kawah Adi Ari Ari

Sedulur Papat Limo Pancer  – Ingatlah, keberadaan kita hidup di dunia tidak sendiri. Semenjak kita dilahirkan melalui rahim ibu, Tuhan sudah menitahkan adanya penjaga-penjaga yang senantiasa mendampingi kita dalam alam dunia. Dan sesuai perintah Tuhan, para penjaga tersebut dengan setia berada di sisi kita.

Istilah sedulur papat limo pancer sampai sekarang diketahui bersumber dari suluk Kidung Kawedar atau disebut pula Kidung Sarira Ayu, bait ke 41-42. Suluk ini diyakini masyarakat sebagai karya Sunan Kalijaga (sekitar abad 15-16), yang berupa tembang-tembang tamsil. Setidaknya, ada empat hal yang agak menyulitkan dalam penafsiran dan pemahaman tembang tersebut, yaitu:

  1. Karena berupa tembang tamsil, uraiannya pendek-pendek dan penuh dengan tamsil ataupun perumpamaan, tanpa ada penjelasan sebagaimana tulisan prosa.
  2. Suluk-suluk periode itu termasuk Kidung Kawedar, menggunakan gaya bahasa peralihan dari Jawa Kuno ke Jawa Madya (pertengahan) yang berbeda dengan gaya bahasa Jawa sekarang, apalagi bahasa Indonesia.
  3. Suluk yang dimaksudkan sebagai dakwah ini menyusup secara halus ke dalam adat budaya dan agama masyarakat yang masih menganut agama Syiwa (Hindu)-Buddha, dengan harapan Islam dapat masuk dan berkembang tanpa harus menimbulkan gejolak besar di masyarakat. Akibatnya, istilah serta nilai-nilai keislaman bercampur dengan istilah dan nilai-nilai Syiwa-Buddha-kejawen.
  4. Suluk yang berupa kidung yang diciptakan para wali pada masa Kesultanan Demak merupakan bagian dari ilmu tasawuf, sehingga untuk memahami hakikatnya, tidak bisa hanya berdasarkan kata serta kalimat yang tersurat semata, apalagi sepotong-sepotong, melainkan
    harus menyelami makna yang tersirat dari keseluruhan isi kidung sebagai suatu kesatuan.
Kidung
Salah satu tembang Tamsil Sunan Kalijaga

Lantaran berupa tembang tamsil, maka kemudian banyak orang yang mencoba menafsirkannya, tentu saja, dengan versinya masing-masing, tergantung dari latar belakang pengetahuan dan kehidupan. Sebelum membahas lebih jauh tentang sedulur papat limo pancer, kita simak terlebih dahulu dua bait kidung yang mengulas masalah sedulur papat lima pancer berikut:

Ana kidung ing kadang memati, among tuwuh ing kawasanira,

nganak aken sagetane, kakang kawah punika,

kang rumeksa Sarira mami, anekakaken sedya, ing kawasanipun,

adhi ari-ari ika, a mayungi ing laku kawasaneki, anek aken paa ngarah.

Ponang getih ing rina wengi, ngrewangi Allah kang kuwasa, andadek aken karsane,

puser kawasanipun, nguyu-uyu sabawa mami, a nuruti ing panedha,  

kawasane reki, jangkep kadang ingsun papat, kalimane

pancer wus dadi sawiji, tunggal sawujud ing wang.

Siapakah Sedulur Papat Limo Pancer Itu?

Dari Kidung tersebut terdapat beberapa penafsiran berbeda, berikut ini beberapa penafsiran sedulur papat limo pancer:

Penafsiran Kejawen

  1. Kakang kawah

Yang dimaksud dengan kakang kawah adalah air ketuban yang membantu kita lahir ke alam dunia ini. Seperti yang kita ketahui, sebelum bayi lahir air ketubanlah yang keluar terlebih dahulu untuk membuka jalan lahirnya si jabang bayi ke dunia ini. Karena Keluar terlebih dahulu masyarakat kejawen menyebutnya dengan Kakang kawah atau Kakak kawah atau saudara lebih tua.

  1. Adi Ari-ari atau ari-ari

Setelah jabang lahir ari-ari inilah yang kemudian keluar, sehingga masyarakat kejawen menyebutnya dengan adi ari-ari atau adik ari-ari.

  1. Getih Atau darah

Kemudian getih atau darah adalah zat utama yang terdapat pada bayi dan sang ibu. Darah jugalah menjadi pelindung pada saat bayi masih ada dalam kandungan.

  1. Puser atau Pusar

Pusar merupakan penghubung antara ibu dan anak, dengan adanya tali puser sang ibu mampu memberikan nutrisi kepada sang bayi. Puser juga merupakan saluran bernafas sang bayi. Dengan adanya puser inilah seorang ibu memiliki hubungan batin yang erat dengan bayi.

  1. Pancer

Pancer adalah kita sendiri sebagai pusat kehidupan ketika dilahirkan.

Semuanya adalah kehendak dari Allah SWT, ketika sang jabang bayi lahir kedunia melalui rahim ibu maka semua unsur-unsur itu keluar dari rahim ibu. Dengan Izin Allah unsur inilah yang menjaga manusia yang ada di bumi saat dilahirkan. Nah, dalam tradisi Kejawen didalam doa sering disebutkan untuk mendoakan pejaga yang tidak nampak ini (kakang kawah, adi ari-ari, getih dan puser).

Penafsiran Pewayangan

Kesenian WayangPenafsiran ini  berupa cipta, rasa, karsa, karya, dan jati diri manusia. Keempat hal tersebut disimbolkan dengan tokoh-tokoh dalam cerita wayang.

  1. Cipta disimbolkan sebagai tokoh Semar,
  2. Rasa sebagai tokoh Gareng,
  3. Karsa sebagai tokoh Petruk,
  4. Karya sebagai tokoh Bagong, dan
  5. Jati diri manusia sebagai tokoh kesatria, antara lain Arjuna.

Penafsiran Hikmah

Sedulur papat limo pancer Berupa empat macam nafsu yang berada di dalam diri manusia. Serta menjelaskan 4 penjaga malaikat dalam kehidupan manusia.

  1. Nafsu supiyah / Keindahan,

Nafsu yang berhubungan dengan masalah kesenangan. Jika tidak dikendalikan, ia akan menyesatkan jalan hidup kita. Manusia umumnya senang dengan hal-hal yang bersifat keindahan, misalnya wanita (asmara). Maka dari itu, manusia yang terbenam dalam nafsu asmara/berahi diibaratkan bisa membakar dunia.

  1. Nafsu amarah

Nafsu yang berkaitan dengan emosi. Jika tidak dikendalikan, ia sangat berbahaya karena akan mengarahkan kita pada perbuatan serta perilaku yang keji dan rendah. Bila manusia hanya mengutamakan nafsu amarah, tentu ia akan selalu merasa ingin menang sendiri dan bertengkar, sampai akhirnya kehilangan kesabaran. Oleh karena itu, sabar adalah alat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

  1. Nafsu aluamah / Serakah

Yaitu nafsu yang sudah mengenal baik dan buruk.Manusia pada dasarnya memiliki rasa serakah dan aluamah. Karena itu, apabila nafsu tersebut tidak dikendalikan, manusia bisa merasa ingin hidup makmur hingga tujuh turunan.

  1. nafsu mutmainah / Keutamaan 

Merupakan nafsu yang telah menguasai keimanan (mungkin lebih tepat nafsu yang telah dikendalikan oleh keimanan), yang membawa sang pemilik menjadi berjiwa tenang, ridha, dan tawakkal. Walaupun nafsu ini merupakan keutamaan atau kebajikan, namun bila melebihi batas, tentu saja tetap tidak baik.

Misalnya, memberi uang kepada orang yang kekurangan itu bagus, namun apabila memberikan semua uangnya sehingga ia sendiri menjadi kekurangan, jelas itu bukan hal yang baik.

  1. Hati nurani

Kemudian penafsiran hikmah lainya menyebutkan bahwa sedulur papat merupakan penjaga kita sejak kita dilahirkan, yaitu Para malaikat. Penafsiran ini muncul seiring masuknya  Islam ke Pulau Jawa. Kepercayaan tentang saudara empat ini dipadukan dengan empat malaikat dalam dunia Islam, yaitu Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail.

Dan, oleh ajaran sufi tertentu, kepercayaan tersebut disejajarkan dengan empat sifat nafsu, yaitu nafsu amarah, lawwamah, sufiah, dan mutmainah.

  1. Malaikat Jibril bertugas menjaga keimanan manusia. Malaikat ini ditugaskan menyampaikan Wahyu sehingga dihubung-hubungkan oleh masyarakat jawa seperti kakang kawah yang menjadi pembuka jalan.
  2. Sedangkan Malaikat Mikail bertugas mencukupi kebutuhan hidup manusia sehari-hari. Sama juga dengan Adi ari-ari yang mencukupi kebutuhan sari makanan Sang jabang bayi.
  3. Malaikat Izrail bertugas menjaga manusia agar senantiasa berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk. Malaikat Izrail merupakan malaikat pencabutnyawa, sama halnya dengan getih, tanpa getih atau darah bayi tidak akan hidup.
  4. Selangjutnya, Malaikat Israfil bertugas menerangi kalbu kita, malaikat peniup sangka kala yang dihubungkan dengan pernafasan bayi dengan sang ibu melalui Pusar.
  5. Sementara itu, yang kelima adalah Sang Guru Sejati yang tiada lain adalah Gusti Allah Yang Mahakuasa.

Penafsiran versi kelima ini menurut ajaran Sunan Kalijaga sebagaimana diuraikan dalam Kidung Kawedar, khususnya pada bait ke-28 dan 29. Kedua bait ini menuturkan adanya keempat malaikat tersebut beserta tugasnya dalam menjaga setiap manusia.

Sekarang kita kembali pada pembahasan tentang sedulur papat lima pancer. Pada prinsipnya, manusia Jawa yang sejati atau bahkan setiap manusia mempunyai cita-cita yang utama, yaitu manunggaling kawula Ian Gusti, walaupun terkadang dalam bahasa yang berbeda. Untuk mencapai
cita-cita tersebut, manusia harus kembali ke asalnya (sebagai pribadi penciptaan awal) atau menjadi manusia seutuhnya.

Pancer Seutuhnya menjadi Aji Saka

Untuk menjadi manusia seutuhnya, manusia harus menjadi aji saka. Aji saka yaitu kaweruh atau kesadaran dalam menghargai secara maksimal dengan berperanan utama (atau menjadi raja yang berperanan utama). Untuk menjadi aji saka, masyarakat Jawa memiliki dasar, yaitu Kalimasada.

Sunan Kalijaga dengan jimat Kalimasada

Dalam pewayangan dikatakan, seorang manusia tidak akan mati jika telah memegang Jamus Kalimasada, seperti cerita pewayangan Samiaji yang begitu sucinya diceritakan sehingga darahnya juga berwarna putih. Maka, Kalimasada pun banyak sekali diperebutkan.

Dan, untuk mengerti serta mengetahui tentang Kalimasada, banyak yang telah mencari ke mana-mana, sampai-sampai saling berebut dan berperang. Guna menjelaskan Kalimasada secara tepat, kejawen telah membuat penjelasan yang lebih sederhana atau dibuat semacam miniatur Kalimasada, yaitu sedulur papat limo pancer. Atau, dalam bahasa sederhananya, Kalimasada mewujudkan diri dalam bentuk yang lebih bisa dimengerti manusia, yaitu dengan menjadi sedulur papat limo pancer.

Dari semua penjelasan diatas bisa saya tarik kesimpulan bahwa sedulur papat harus diawasi dan diatur agar jangan sampai ngelantur. Manusia diuji agar jangan sampai kalah dengan keempat saudaranya yang lain. Manusia harus selalu menang atas mereka. Jika Manusia bisa dikalahkan oleh sedulur papat ini, maka hancurlah dunianya. Sebagai pusat (PANCER), manusia harus bisa menjadi pengawas dan patokan.

Ilmu Sedulur Papat limo Pancer

Ilmu yang dimaksud adalah ilmu pemahaman tentang sedulur papat yang sudah saya uraikan di atas. Kemudian jika ada ilmu yang mampu memanggil sedulur papat limo pancer hal itu merupakan semu belaka. Hanya Allah semata yang mempunyai ilmu Semacam itu. Marilah kita menyikapi hal ini dengan bijak dan pintar.

Nah itulah yang disebut dengan “Ngelmu” Sedulur Papat limo Pancer. Mudah-mudahan dengan penjelasan dari saya Ki Bagus Wijaya, mampu memberi Anda wawasan yang benar dan bermanfaat. Wassalamualaikum Wr Wb.

 

Mengenal Ritual Pesugihan Dalam Ilmu Kejawen

Mengenal Ritual Pesugihan Dalam Ilmu Kejawen

Ritual Pesugihan – Pesugihan adalah upaya meraih kekayaan secara instan dengan meminta bantuan jin dengan alat-alat tertentu dan cara-cara tertentu. Ritual ini memiliki ragam nama dan tata cara mengamalkan serta pola kerjanya. Ada ritual tuyul, raksasa buto ijo, babi ngepet, dan masih banyak lainnya. Tujuan seseorang mencari ritual spiritual ini tak lain dan tak bukan adalah untuk memperoleh kekayaan.

Diantara tujuan yang paling diburu adalah agar usahanya makin maju, mendapatkan jabatan yang diinginkan, serta meraih kekayaan dalam waktu cepat dan tanpa banyak mengeluarkan tenaga. Meskipun mereka tahu akan konsekwensi yang akan ditanggung diri dan keluarganya.

Perlu saya sampaikan bahwa di dalam budaya Kejawen ada 2 jenis pesugihan, yaitu  hitam dan putih. Kedua jenis ritual tersebut memiliki tata cara dan konsekwensi yang berbeda. Kita ketahui sendiri kalau aliran hitam diharuskan menyediakan syarat atau tumbal nyawa seseorang. Nah kalau aliran putih hanya meminta ganti dengan tidakan laku puasa atau wirid tirakatan.

Kedua ritual tersebut memang ada sampai saat ini, namun keputusan ada ditangan Anda sendiri apakah memilih yang hitam atau putih. Namun saya menyarankan kepada Anda agar cenderung memilih ritual putih. Berikut ini penjelasan lengkapnya:

Ritual Pesugihan Ilmu Hitam

Pesugihan hitam pada dasarnya adalah sebuah perjanjian/ kontrak yang dilakukan antara manusia dan jin atau setan. Di mana jin atau setan akan membantu manusia mencari rezeki/uang. Dan, sebagai imbalan, selanjutnya manusia harus membantu setan dalam kehidupan setelah nantinya manusia tersebut meninggal dunia.

Sehingga roh/arwah manusia tersebut tidak akan bisa masuk ke alam tunggu / alam barzakh, melainkan masuk ke alam gaib menjadi budak dari jin/setan sampai hari kiamat datang. Dalam praktiknya. Pesugihan hitam seperti babi ngepet, jaran penoleh, blorong, dan lain-lain, ritual tersebut merupakan semua bentuk permintaan kelancaran rezeki selain kepada Tuhan secara langsung melalui doa dan lelaku yang dilakukan diri sendiri tanpa bantuan serta perantaraan siapa pun dan benda apa pun.

Tentu saja, setiap jenis pesugihan memiliki konsekuensi sendiri-sendiri dan semuanya tidak bisa diperoleh dengan gratis. Artinya, mesti ada perjanjian-perjanjian tertentu dengan wujud/bentuk pesugihan yang wajib dipenuhi oleh si pencari pesugihan.

Sebelum para pencari kekayaan melakukan prosesi laku tirakat, mereka harus mengucapkan janji terlebih dahulu. Nah, jika mereka melanggar janji, maka taruhannya adalah nyawa mereka sendiri.

Ritual Pesugihan Ilmu Putih ( Hikmah Kejawen)

Tidak semua pesugihan menggunakan jasa jin atau setan, ada juga yang menngunakan ilmu putih hanya mengharuskan pengamal melakukan wirid dan puasa untuk mengganti syarat dari ritual tersebut. Salah satu contoh penggunaan ritual putih biasanya berbentuk uang asmak, uang seribu dinar, hizib, dan rajah. Menurut saya ritual putih ini memiliki sedikit resiko dan mungkin sangat cocok bagi Anda yang menginginkan sarana spiritual bebas tumbal.

Sebagai informasi saja, berikut ini beberapa Pesugihan yang termasuk dalam ilmu hitam:

  1. Ritual pesugihan Nyi Roro KidulRitual pesugihan Nyi Roro kidul menjadi sosok pesugihan kelas menengah ke atas. Pasalnya kekayaan yang diberikan sangat banyak sekali tanpa batas. Ritual ini terbilang tidak cukup sulit. Hanya berhubungan badan saja pada malam-malam tertentu sesuai kesepakatan. Adapun wujud asli dari Nyi Roro Kidul ini adalah ular naga yang memiliki sisik emas. Setelah selesai berhubungan badan, maka sisik-sisik emas yang ada di tubuh Nyi roro kidul akan rontok menjadi serpihan emas.

    Nah, konon katanya sesaat sebelum hubungan badan dilakukan. Terjadilah semacam kesepakatan atau perjanjian. Yang intinya umur dari pesugihan Nyi Roro Kidul ini tidaklah lama. Sekitar 7 tahun. Dan jika ingin ditambahkan lagi, maka bisa ditambahkan satu periode lagi dengan membelokkan tumbal dengan nyawa orang lain. Baru setelah periode kedua habis, maka sang pelaku pesugihan inilah yang akhirnya menjadi tumbal dan harus bersedia menjadi pengikutnya selamanya.

  2. Ritual pesugihan monyet SilumanMemang tidak ada habisnya jika kita membicarakan ritual pesugihan. ada banyak sekali jenis ritual pesugihan yang ada di jawa. Salah satu diantaranya adalah ritual pesugihan monyet. Lokasi tempat pesugihan monyet ini berada di daerah Ngujang, Tulungagung, Jawa timur. Adapun tata cara dan ritual pesugihan monyet adalah sang pencari pesugihan monyet harus selalu menyediakan tumbal nyawa kepada makhluk gaib yang menguasai makam Ngujang sampai si pemuja meninggal.

    Sang pemuja akan mendapatkan seekor monyet yang nantinya akan menjadi peliharaannya. Monyet ini diyakini bisa membantu sang pemuja untuk memudahkan jalan rejeki.

  3. Ritual pesugihan gunung kemukusGunung kemukus merupakan gunung sebagaimana gunung yang lainnya. elok dan rupawan. Namun siapa sangka dibalik keelokannya tersebut dia justru dikenal karena dapat membawa keberuntungan dan kekayaan. Hal inilah yang kemudian menjadikan orang berbondong-bondong ingin menguji tentang kebenaran mitos tersebut.

    Adapun ritual pesugihan gunung kemukus ini terbilang cukup aneh, selain aneh juga asik. Pasalnya seseorang yang ingin melakukan ritual pesugihan gunung kemukus ini harus berhubungan badan dengan pasangan tidak resmi. Harus tidak resmi. Mengapa ? karena jika nanti ada anak yang dikandung dan dilahirkan, namun secara gaib pula, maka anak tersebutlah yang akan menjadi tumbal pengganti nyawa dari sang pencari pesugihan. lagi-lagi tempat pesugihan gunung kemukus ini berada di jawa. Tepatnya di jawa tengah. Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen.

  4. Ritual pesugihan gunung kawiRitual pesugihan gunung kawi diyakini masyarakat bisa mendatangkan berkah pesugihan. Ritual pesugihan gunung kawi ini khususnya jika kejatuhan daun atau ranting dari pohon yang dianggap keramat yaitu pohon dewandaru. Siapa saja yang kejatuhan secara tidak sengaja, maka keberuntungan demi keberuntungan akan menghampirinya. Maka tidak heran, banyak yang menunggu di bawah pohon dewandaru ini berhari-hari lamanya.
  5. Ritual pesugihan Putri ChinaDi Jawa Tengah, tepatnya di daerah barat muncul mitos tentang pesugihan putri china. Ritual ini hampir sama dengan pesugihan ratu pantai selatan, hanya dengan berhubungan badan dengan jin putri china. Apapun yang anda minta akan terkabul, namun tumbal yang diminta adalah nyawa anak Anda. Anda berminat? tentu mengerikan sekali. Beberapa sumber mengatakan bahwa sosok putri cina ini sangatlah cantik mulus putih bersih, dan saat melakukan hubungan harus disaksikan oleh sang istri.
  6. Ritual pesugihan tukar janinRitual pesugihan tukar janin adalah sebuah ritual menukarkan janin kepada bangsa jin. Ritual ini terjadi setelah terjadi kesepakatan antara manusia dengan jin. Wanita yang mengandung harus mengikhlaskan janinnya diberikan kepada jin perempuan yang menginginkan keturunan. Nah, sebagai imbalannya maka jin tersebut akan memberikan uang dan kekayaan.
  7. Ritual pesugihan lewat tuyulTuyul biasa dilambangkan sebagai jelmaan dari anak kecil, kepala botak, dan memiliki suara seperti anak ayam. Tuyul biasa dijadikan sebagai pekerja untuk mencuri uang seseorang. Cara memelihara tuyul tidaklah sulit, yaitu istri atau siapa saja wanita yang ada di dalam rumah Anda harus bersedia menyusui sang tuyul setiap malam layaknya anak sendiri.

    Namun memelihara tuyul bukanlah tak berisiko. Jika suatu hari tuyul tertangkap tangan oleh orang pintar dan dianiaya atau disakiti. Maka yang kesakitan bukanlah si tuyul melainkan majikannya. Contohnya, si tuyul dipukul hingga kepalanya memar. Maka sang majikan juga kepalanya akan meninggalkan bekas memar. Inilah yang akan dijadikan warga sebagai barang bukti bahwa Anda memelihara tuyul.

    Kemudian, tuyul juga tidak bisa mengambil uang secara yang terikat (bergerombol) hanya bisa mengambil beberapa lembaran saja.

Demikian penjelasan saya tentang Ritual Pesugihan dalam Ilmu kejawen, semoga memberikan anda pengetahuan yang bermanfaat. Wassalam