Filsafat Jawa Tentang Alam – Ajaran Kejawen Tentang Alam

Filsafat Jawa Tentang Alam – Ajaran Kejawen Tentang Alam

Filsafat Jawa meyakini bahwa alam ini terdiri dari tiga jenis, yakni alam fana atau dunia nyata, alam gaib, dan alam tunggu atau alam barzah.

Alam fana dihuni oleh manusia, binatang, tumbuhan, dan makhluk hidup ciptaan Tuhan lainnya. Adapun alam gaib dihuni oleh jin dan roh. Jin terdiri dari jin yang baik dan jin yang jahat yang kemudian disebut setan atau demit. Roh adalah arwah manusia yang telah meninggal dunia, yang semasa hidupnya sangat dekat dengan Tuhan sehingga dianugerahi ilmu dan ngilmu dari-Nya serta diberi kesempatan untuk terus bisa mengamalkan ilmunya sampai hari kiamat. Adapun alam tunggu atau alam barzah dihuni oleh arwah manusia yang sudah tenteram untuk menunggu datangnya hari kiamat.

Menurut ajaran kejawen, tugas-tugas makhluk di alam adalah sebagai berikut:

  • Manusia diberikan tugas untuk mencari bekal sebanyakbanyaknya agar bisa masuk ke surga setelah hari kiamat tiba.
  • Jin baik diberikan tugas untuk mencari bekal sebanyakbanyaknya agar bisa masuk ke surga setelah hari kiamat tiba.
  • Jin yang jahat yang disebut setan/demit diberikan tugas untuk mengganggu manusia agar tidak bisa masuk surga dan menemani mereka masuk ke neraka. Manusia untuk bisa mencapai surga tidaklah mudah, sebab setan/demit selalu dan pasti akan menghalangi dengan berbagai cara dan upaya.

Baca Juga: Dasar Falsafah Jawa tentang Kehidupan

Nah, ada juga ritual yang disebut-sebut menggunakan jasa Setan dan jin dalam pelaksanaannya. Seperti dibawah ini:

  1. Pesugihan – Dalam konsepsi umum, pesugihan adalah upaya meraih kekayaan dengan meminta bantuan jin dengan alat-alat tertentu, bahkan bisa jadi menggunakan cara yang tragis. Pesugihan sangat beragam nama dan pola kerjanya. Ada pesugihan tuyul, raksasa buto ijo, babi ngepet, dan siluman. Lebih Lengkap tentang pesugihan <<< Klik Disini.
  2. Santet – Guna-guna atau santet adalah sebuah ilmu untuk menyakiti orang lain dengan menggunakan media jin atau sejenisnya. Ada juga yang mendefinisikan santet dengan setiap perbuatan yang dilakukan oleh diri sendiri atau atas bantuan orang lain untuk mengganggu, mencelakai orang yang dianggap musuh, bahkan membunuhnya dengan cara tidak terang-terangan. Lebih Lengkap tentang Santet <<< Klik Disini.
  3. Jimat – adalah suatu benda atau kekuatan yang dipelihara oleh manusia untuk suatu maksud dan tujuan tertentu.Jimat tersebut dapat berupa berbagai macam bentuk, mulai dari kertas bertuliskan huruf tertentu, uang koin, akik, dan semacamnya. Lebih Lengkap tentang Jimat <<< Klik Disini.
  4. Pusaka – Pusaka hampir sama dengan jimat, perbedaannya adalah jimat melekat pada tubuh si pemilik, sedangkan pusaka disimpan di rumah atau di suatu tempat khusus yang tidak selalu dibawa pergi oleh pemiliknya. Lebih Lengkap tentang Pusaka <<< Klik Disini.

Demikian penjelasan saya tentang filsafat jawa mengenai alam yang kita lewati ini, semoga dengan info dari saya anda terbebas dari godaan Syetan yang menyesatkan. Wassalam.

Konsep Ajaran Kejawen Asli Tentang Kehidupan dan Ketuhanan

Konsep Ajaran Kejawen Asli Tentang Kehidupan dan Ketuhanan

Ajaran Kejawen – Pandangan kejawen tentang makna hidup manusia di dunia ditampilkan secara rinci, realistis, logis, dan mengena di dalam hati nurani. Hidup ini diumpamakan hanya sekedar mampir ngombe (mampir minum), hidup dalam waktu sekejab, dibandingkan kelak hidup di alam keabadian setelah raga ini mati. Namun, tugas manusia sungguh berat, karena jasad adalah pinjaman Tuhan. Tuhan meminjamkan raga kepada ruh, dan ruh harus mempertanggung jawabkan “barang” pinjamannya itu.

Konsep Ajaran Kejawen Asli tentang Kehidupan Dunia

Pada awalnya, Tuhan Yang Maha suci meminjamkan jasad kepada ruh dalam keadaan suci. Apabila waktu “kontrak” peminjaman telah habis, maka ruh diminta pertanggung jawabannya, di mana ruh harus mengembalikan jasad pinjamannya itu dalam keadaan suci seperti semula. Ruh dengan jasadnya diizinkan Tuhan “turun” ke bumi, tetapi dibebani tugas, yakni menjaga barang pinjaman tersebut agar dalam kondisi baik dan suci setelah kembali kepada pemilik-Nya, Gusti Ingkang AkaryoJagad.

Ruh dan jasad menyatu dalam wujud yang dinamakan manusia. Tempat untuk mengekspresikan dan mengartikulasikan diri manusia adalah tempat pinjaman Tuhan juga yang dinamakan bumi berikut segala macam isinya atau disebut marcapada.Ajaran Jawa

Karena bumi bersifat “pinjaman” Tuhan, maka bumi juga bersifat tidak kekal. Betapa Maha Pemurah Tuhan, Dia bersedia meminjamkan jasad, berikut tempat tinggal dan segala isinya menjadi fasilitas manusia yang boleh digunakan secara gratis.

Tuhan hanya menuntut tanggung jawab manusia agar menjaga semua barang pinjaman tersebut. Serta manusia diperbolehkan memanfaatkan semua fasilitas yang Tuhan sediakan dengan cara tidak merusak barang pinjaman dan semua fasilitasnya. Itulah “perjanjian” gaib antara Tuhan dengan manusia sebagai makhluk-Nya.

Apa Hakikat Hidup Manusia?

Kita sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang sempurna wajib menjalankah amanah yang di berikan oleh -Nya.

Oleh sebab itu Tuhan membuat rumus atau “aturan main” yang harus dilaksanakan oleh manusia. Rumus Tuhan ini, yang disebut pula sebagai kodrat Tuhan, berbentuk hukum sebab-akibat. Pengingkaran atas isi atau klausul kontrak tersebut berupa akibat sebagai konsekuensi logisnya.

Misalnya, keburukan akan berbuah keburukan dan kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Barang siapa menanam, maka ia akan memanen. “Perbuatan suka memudahkan akan berbuah sering dimudahkan. Perbuatan suka mempersulit akan berbuah sering dipersulit”. Itulah konsep ajaran kejawen tentang kehidupan di dunia.

Hidup di dunia ini hanya sementara. Dan, apa yang dimiliki manusia di dunia hanyalah merupakan bentuk pinjaman yang diberikan Tuhan, baik itu jasad, harta benda, maupun yang lainnya. Maka, benar apa yang dikatakan oleh salah seorang tokoh mistik kejawen, Syekh Siti Jenar, bahwa kehidupan di dunia bukanlah kehidupan sejati, melainkan kehidupan sementara. Adapun kehidupan yang sejati itu adalah kehidupan sesudah kehidupan di dunia (kehidupan sesudah mati). Itulah Ajaran Kejawen tentang kehidupan kita di dunia ini.

Baca Juga: Kejawen Bukan Sebuah Agama

Konsep Ajaran Kejawen Asli tentang Pahala, Dosa, Kebaikan, dan Keburukan

Pahala, dosa, kebaikan, dan keburukan merupakan empat hal yang saling bersinergi. Maksudnya, pahala merupakan buah ganjaran dari kebaikan, sedangkan dosa adalah buah ganjaran dari keburukan.

Dalam agama apa pun, ajaran konsep seperti ini hampir sama. Perbuatan baik atau kebajikan akan mendatangkan pahala, sedangkan perbuatan buruk atau perbuatan yang tidak baik (dalam arti melanggar norma agama) akan mendatangkan dosa.

Seperti apakah sebenarnya konsep pahala, dosa, kebaikan, dan keburukan itu dalam mistik kejawen?

Ajaran kejawen tidak pernah menganjurkan seseorang menghitung-hitung pahala dalam setiap beribadah (kebaikan). Pada kebudayaan kejawen, motivasi beribadah atau melakukan perbuatan baik kepada sesama bukan karena tergiur surga.

Demikian pula dalam melaksanakan sembahyang manyembah kepada Tuhan Yang Maha Suci, bukan karena takut neraka dan tergiur iming-iming surga. Ajaran Kejawen memiliki tingkat kesadaran. Bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan seseorang kepada sesama bukan atas alasan ketakutan dan intimidasi dosa neraka. Melainkan kesadaran murni bahwa setiap perbuatan baik kepada sesama merupakan sikap adil dan baik pada diri sendiri.

Kebaikan kita kepada sesama adalah kebutuhan diri kita sendiri. Kebaikan akan berbuah kebaikan, karena setiap kebaikan yang kita lakukan kepada sesama akan kembali untuk diri kita sendiri, bahkan satu kebaikan akan kembali pada diri kita secara berlipat. Demikian pula sebaliknya,
setiap kejahatan akan berbuah kejahatan pula.

Apabila kita suka mempersulit orang lain, misalnya, maka dalam urusan-urusan tertentu, kita akan sering menemukan kesulitan. Jika kita suka menolong dan membantu sesama, maka hidup kita pun akan selalu mendapatkan kemudahan. Amin

Ajaran Kejawen Menanamkan Keihlasan

Menurut pandangan kejawen, kebiasaan mengharap dan menghitung pahala terhadap setiap perbuatan baik hanya akan membuat keikhlasan seseorang menjadi tidak sempurna. Kebiasaan itu juga mencerminkan sikap yang serakah, lancang, picik, dan tidak tahu diri.

Ajaran Kejawen

Hal ini dikarenakan, menyembah Tuhan adalah kebutuham manusia, bukan kebutuhan Tuhan. Ajaran kejawen memandang bahwa seseorang yang menyembah Tuhan dengan tanpa pengharapan akan mendapatkan pahala atau surga dan bukan atas alasan takut dosa atau neraka, adalah sebuah bentuk kemuliaan hidup yang sejati.

Terus apa tujuan kita Sembahyang?

Menyembah Tuhan atau sembahyang tidak lain sebagai cara mengungkapkan rasa berterima kasih kepada Tuhan. Namun demikian, ajaran kejawen memandang bahwa rasa syukur kepada Tuhan melalui sembahyang atau ucapan saja tidaklah cukup. Rasa syukur harus diartikulasikan dan diimplementasikan ke dalam bentuk tindakan atau perbuatan baik kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Jika Tuhan memberikan kesehatan kepada kita, maka sebagai wujud rasa syukur, kita harus membantu dan menolong orang lain yang sedang sakit atau menderita. Itulah pandangan yang menjadi dasar kejawen. Bahwa menyembah Tuhan dan berbuat baik kepada sesama bukanlah kewajiban (perintah) yang datang dari Tuhan, melainkan diri kita sendiri yang mewajibkannya.

Konsep Ajaran Kejawen Asli tentang Tuhan

Di dalam pandangan kejawen, Tuhan tidak pernah menghukum ciptaan-Nya sendiri. Sebab, sebagaimana semua agama di dunia ini, ajaran kejawen meyakini bahwa Tuhan bisa membuat apa saja, dan sempurna.

Untuk apa Tuhan harus menghukum makhluk ciptaan-Nya sendiri?
Bukankah Tuhan sesungguhnya dapat membuat manusia sempurna?

Konsep tentang Tuhan mencakup konsep mengenai siapa yang disembah (sesembahan) dan siapa yang menyembah serta bagaimana cara menyembahnya (panembah).

Sebelum datangnya Hindu dan Buddha di Tanah Jawa, banyak yang mengira masyarakat Jawa menganut paham animisme dan dinamisme, bahkan ada yang menyebut politeisme. Nah pada konsep ajaran kejawen ini mungkin lebih bisa diartikan ke arah new age atau malah agnostik, yaitu dengan bertuhan namun tidak mempercayai atau mengadopsi cerita nabi/malaikat, karena memang ajaran kejawen mengedepankan laku pribadi dan menolak adanya konsep malaikat. Sebagaimana yang ditelusuri oleh Prof. Purbacaraka dan termasuk dalam kitab Tantu Panggelaran, konsep awal Tuhan Jawa adalah tunggal atau esa, yaitu Sang Hyang Tunggal/Sang Hyang Wenang yang merupakan Maha Esa.

ketuhanan

Meluruskan Ajaran Yang salah

Setelah Hindu dan Buddha masuk, konsep tersebut tersingkir dengan adanya Sang Hyang Mahadewa (Bathara Guru) dan semakin tergeser pada zaman Islam dengan masuknya Sang Hyang Adhama dan Sang Hyang Nurcahya, di mana Sang Hyang Wenang mengalah dengan menempati posisi di bawah Sang Hyang Adhama. Meskipun dinalar cukup rumit dan ruwet, namun dalam keberadaban Jawa yang mengutamakan laku, hal tersebut tidak ada masalah.

Sebab, pada kenyataannya, yang melekat dalam sanubari masyarakat kejawen adalah sebutan Pangeran atau Gusti yang dirasa lebih pas di kalbu ketika menyebutkan konsep Tuhan.

Setidaknya, ada tiga hal yang mendasari masyarakat Jawa yang berkaitan dengan konsep ketuhanan.

  1. Kita bisa hidup karena ada yang menghidupkan, dan yang memberi hidup serta menghidupkan kita adalah Gusti Kang Murbeng Dumadi atau Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Hendaknya dalam hidup ini kita berpegang pada rasa, atau yang dikenal dengan tepo sliro, artinya bila kita merasa sakit dicubit, maka hendaklah jangan mencubit orang lain.
  3. Dalam kehidupan ini, jangan suka memaksakan kehendak kepada orang lain, ojo sen eng mekso.

Nah bisa disimpulkan bahwa ajaran Kejawen tentang ketuhanan adalah membahas siapa diri kita ini dan apa tujuan kita di dunia ini. Kemudian Masyarakat kejawen juga mempercayai bahwa Tuhan merupakan Maha Segalanya. Karena itu, mereka mengatakan jika Tuhan tidak perlu dibahas keberadaan-Nya, karena -Dia tan kino kinayangan, tidak bisa disimbolkan ataupun dibayangkan wujud-Nya.

Meski demikian masyarakat jawa tetap melakukan semua perintah Gusti dengan melakukan ritual-ritual sembahyang. Sehingga mampu mengalami sebuah puncak pengalaman religius yang disebut manunggaling karsa kawulo Ian karsa Gusti, yang mana orang tersebut akan mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Kemampuan itu dapat diperoleh dengan laku spiritual. Demikian penjelasan lengkap saya tentang Konsep Ajaran Kejawen Asli Tentang Kehidupan dan Ketuhanan Semoga dengan ini kita memiliki wawasan yang luas tentang Ilmu Kejawen.

Dasar – Dasar Falsafah Jawa (Kejawen) Tentang Kehidupan

Dasar – Dasar Falsafah Jawa (Kejawen) Tentang Kehidupan

Falsafah Jawa – Di dalam ilmu kejawen juga memiliki sebuah acuan atau dasar-dasar filsafat. Acuan ini dipakai untuk menentukan fungsi yang sesungguhnya dari Ilmu Kejawen ini.

Dasar – Dasar Falsafah Jawa

Kesadaran Religius

Keimanan dan kepercayaan kepada Tuhan mendasari munculnya sistem religi dan ritual penyembahan, yaitu sembah raga, jiwa, dan sukma, yang mencakup semua daya hidup berupa cipta, rasa, karsa, dan daya spiritual.

Ritual ini bisa berbentuk tapa brata (Durung wenanga memuja lamun durung tapa brata), yang terdiri dari lima laku, yakni:Falsafah Jawa

  1. mengurangi makan dan minum (anerima),
  2. mengurangi keinginan hati (eling),
  3. mengurangi nafsu birahi (tata susila),
  4. mengurangi nafsu amarah (sabar),
  5. mengurangi berkata – kata atau bercakap-cakap yang sia-sia (sumarah).

Akan tetapi, tapa brata bukanlah tata cara penyembahan seperti pada agama islam, tetapi hanya sebagai sarana untuk menata kekuatan hidup  dayaning urip. Tapa brata merupakan sifat totalitas menjalani hidup yang benar dan baik menuju kesempurnaan. Hidup yang sempurna (sukma) akan bersatu dengan Sang Pencipta (Guruning Ngadadi), dengan ilmu kesempurnaan (kaweruh kasampurnan).

Kesadaran Kosmis

Kesadaran kosmis menggambarkan hubungan manusia dengan alam semesta dan isinya. Kesadaran kosmis ini mencitrakan ritual sesaji dengan falsafah sakabehing kang ana manunggal kang kapurbalan kawasesa dening Kang Murbeng Dumadi. Semua yang ada di semesta adalah satu (manunggal) yang ada berasal dari Sang Pencipta (Sukma Kawekas, Sah Hyang Wisesaning Tunggal, Sanghyang Wenang).

Falsafah ini mendasari pengetahuan kesatuan, berupa hubungan magis manusia dan alam seisinya. Adapun bentuk-bentuk ajarannya adalah sebagai berikut

  1. Bersatunya alam kecil (mikrokosmos) dengan alam besar (makrokosmos). Alam dan seisinya, termasuk manusia adalah satu kesatuan.
  1. Bapak angkasa dan ibu bumi. Manusia dibangun dari unsur cahaya (cahya Ian teja) dan unsur bumi (bumi, banyu, geni, Ian angin, utowo hawa).
  1. Kakang kawah dan adi ari-ari. Yaitu, kelahiran berupa makhluk yang tampak maupun tidak tampak. Kesadaran kesatuan akan semesta menjadikan manusia Jawa memiliki ritual slametan dan sesaji (caos dhahar).

Pengetahuan mengenai kesatuan yang disebut dengan persatuan manusia dan Tuhan (manunggaling kawula Ian Gusti) merupakan puncak filsafat Jawa.

Kesadaran Peradaban

Sadar akan peradaban adalah pemahaman mengenai hubungan manusia dengan manusia. Kesadaran ini berwujud memayu hayuning pribadi, memayu hayuning kaluwarga, memayu hayuning bebyaran, memayu hayuning negara, dan memayu hayuning buwana.

Manusia sebagai makhluk utama harus berhubungan dengan sesama manusia dalam keutamaan (beradab). Kesadaran peradaban ini mewujudkan kesadaran antar sesama, terlebih dalam kesadaran terhadap negara. Konsep tata tentrem kerta raharja menjadi tujuan utama sebagai konsep bermasyarakat dan bernegara.

Menurut Prof. Dr. Branders (1889), manusia Jawa telah memiliki sepuluh dasar kehidupan asli yang ada sebelum masuknya agama-agama impor, yaitu pertanian, sawah, dan irigasi pelayaran, perbintangan, wayang, gamelan, batik, metrum, cor logam, mata uang, dan sistem pemerintahan. Budaya-budaya tersebut ada sejak Jawa kuno dan merupakan kedaulatan spiritual Jawa, filsafat jawa yang digunakan untuk hidup di Tanah Jawa, filsafat hidup lengkap di Jawa.

Hukum Menggunakan Mantra Jawa dan Sesaji

Hukum Menggunakan Mantra Jawa dan Sesaji

Mantra Jawa –  Dalam literatur dan kaidah kebudayaan Jawa (Kejawen) tidak ditemukan adanya aturan dalam kalimat doa serta tata cara baku menyembah Tuhan. Dalam budaya Jawa dipahami bahwa Tuhan Maha Segalanya dan kekuasaan-Nya tiada terbatas. Sama juga dalam kejawen, karena bukanlah agama, maka dalam falsafah kejawen, yang ada hanyalah wujud laku spiritual dalam tataran batiniahnya serta laku ritual dalam tataran lahiriahnya.

Laku ritual merupakan simbol dari laku spiritual. Adapun contoh dari laku ritual ini, di antaranya mantra dan sesaji/sesajen. Namun sayangnya, banyak kalangan yang tidak memahami asal usul dan makna dari semua itu, akhirnya dengan begitu saja memberikan asumsi bahwa mantra sama halnya dengan doa.

Sementara, sesaji dipersepsikan sama maknanya dengan ritual menyembah Tuhan. Asumsi dan persepsi ini salah besar.

Lalu, bagaimanakah yang benar? Mari kita simak uraian lengkapnya berikut.

Mantra Jawa

Menurut definisi umum, mantra Jawa diambil dari kata dalam bahasa Sanskerta, yaitu “mantra” atau “manir”, yang merujuk pada kata-kata dalam kitab suci umat Hindu, Veda. Dalam masyarakat Melayu, mantra atau juga dikenal sebagai jampi, serapah, atau seru. Mantra adalah sejenis pengucapan yang terdengar seperti puisi yang mengandung unsur sihir dan ditujukan untuk memenuhi keinginan penuturnya.

Sehingga, pengertian mantra Jawa antara lain merupakan ayat yang dibaca untuk melakukan sihir. Yaitu melakukan sesuatu secara kebatinan, seperti menundukkan musuh, melemahkan musuh, atau memikat wanita.212520700

Namun, pengertian ini berbeda dengan pengertian mantra dalam kejawen. Maka, akibat dari pengertian ini, muncullah kesalahan memaknai mantra secara simpang siur, di mana mantra dianggap sebagai hal yang selalu berhubungan dengan setan/makhluk halus dan bersifat negatif/hitam.

Misalnya, lafal komat – kamit yang diucapkan seorang dukun santet itu bukanlah sejenis mantra, namun password atau kata kunci, atau kode isyarat berupa kata-kata untuk memanggil sekutunya yakni sejenis jin, setan, atau makhluk gaib sebagai pesuruh agar mencelakai korbannya.

Perlu dipahami, mantra berbeda dengan sihir. Mantra juga tidak sama maknanya dengan doa. Doa merupakan permohonan kepada Tuhan. Sementara, mantra itu ibarat upaya untuk menarik picu senapan yang bernama daya hidup.

Daya hidup manusia merupakan pemberian Tuhan Yang Mahakuasa. Pemberian sesaji, laku sesirih (mencegah), dan laku semedi memiliki makna tata cara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan kehidupan yang benar, baik, dan tepat, yakni menjalankan hidup dengan mengikuti kaidah memayu hayuning bawana.

Nah, daya hidup manusia tersebut biasanya disebut dengan aura magis. Setiap manusia memiliki berbagai macam aura magis sejak dilahirkan.  Dengan begitu lahirlah ilmu Jawa yang bertujuan untuk menandai perbedaan aura magis seseorang berdasarkan weton dan wuku.

Kesimpulan: Mantra merupakan sarana untuk mengakses daya hidup (Raga), sama juga dengan sugesti atau afirmasi. Oleh karena itu penggunaan mantra tidak menyalahi aturan agama yang Anda anut.

Sesaji / Sesajen

Sesaji atau sajen, jika dipandang dari perspektif agama, terkadang dianggap berkonotasi negatif, yakni sebagai biang kemusyrikan (penyekutuan Tuhan). Namun, benarkah manusia menyekutukan dan menduakan Tuhan melalui upacara sesaji ini?

rscn1584

Alangkah baiknya janganlah terjebak oleh keterbatasan akal budi dan nafsu golek menange dhewe (mencari menangnya sendiri) dan golek benere dhewe (mencari benarnya sendiri). Dalam Ilmu kejawen, maksud sesaji sebenarnya merupakan suatu upaya harmonisasi melalui jalan spiritual yang kreatif. Hal itu ditujukan untuk menyelaraskan dan menghubungkan antara daya aura magis manusia dengan seluruh ciptaan Tuhan. Khususnya kekuatan alam dan makhluk gaib.

Dengan kata lain, sesaji merupakan penyeimbangan manusia dalam hal gaib terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Penyeimbangan diartikan sebagai kesadaran manusia. Sekalipun manusia dianggap sebagai makhluk paling mulia, namun tidak ada alasan untuk mentang-mentang merasa diri paling mulia di antara makhluk lainnya. Sebab, kemuliaan manusia tergantung dari cara memanfaatkan akal budi dalam diri sendiri. Bila akal budi digunakan untuk kejahatan, maka kemuliaan manusia menjadi bangkrut, bahkan bisa lebih hina dibandingkan dengan binatang paling hina.

Kesimpulan: Sesaji bisa dianggap Syirik jika Anda tujukan untuk menyembah selain Allah, dan jika anda gunakan hanya untuk pelengkap penghormatan sesama mahluk silahkan saja.

Kesenian Wayang Merupakan Tradisi Kejawen Paling Indah

Kesenian Wayang Merupakan Tradisi Kejawen Paling Indah

Kesenian Wayang –  Dalam penerapannya, ada beberapa bentuk aliran kejawen, salah satunya adalah Kesenian wayang. Berbicara tentang wayang, umumnya hal pertama yang terlintas dalam pikiran kita adalah Jawa, Mahabharata, Ramayana, Semar, Petruk, Gareng, Pandawa, dan lain-lain. Wayang menjadi salah satu budaya masyarakat Jawa yang sampai saat ini tetap lestari dan banyak dipertunjukkan.

Dalam tataran yang lebih tinggi, wayang menjadi salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, dan hiburan.

Kesenian Wayang Merupakan Media Dakwah

Hal tersebut dapat dilihat pada masa penyebaran Islam, di mana wayang menjadi alat media dakwah yang digunakan para wali (khususnya Sunan Kalijaga) dalam menarik masyarakat untuk memeluk agama Islam setelah sebelumnya beragama Hindu atau Buddha. Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya Kesenian wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa.

ramayana-2Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabharata, kedua induk cerita tersebut dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikan falsafah asli Indonesia. Penyesuaian konsep filsafat tersebut juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, yang kadang-kadang bertindak keliru dan bisa jadi khilaf.

Hadirnya tokoh punakawan dalam pewayangan sengaja diciptakan para budayawan Indonesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk memperkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.

Arti dari Wayang

Wayang, menurut Ki Bagus Wijaya, adalah sebuah kata dalam bahasa Indonesia (Jawa) asli, yang berarti bayang-bayang atau layang yang berarti terbang kesana kemari. Wayang juga diartikan sebagai bayangan angan-angan. Yaitu menggambarkan nenek moyang (Ieluhur) menurut angan-angan. Karena terciptanya segala bentuk wayang disesuaikan dengan kelakuan tokoh yang dibayangkan dalam angan-angan.

Asal-usul Kesenian Wayang

Mengenai asal usulnya, ada dua pendapat berbeda. Pendapat pertama menyatakan bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini, selain dianut dan dikemukakan oleh para ahli dan peneliti Indonesia, juga  merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat.

Sementara itu, pendapat kedua menduga bahwa wayang berasal dari India yang dibawa bersama-sama dengan agama Hindu ke Indonesia. Para tokoh Barat yang masuk dalam kelompok ini antara lain Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar tokoh dalam kelompok kedua ini adalah sarjana asal Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India. Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pewayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak berasal  dari negara lain.

Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indonesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976-1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmurnya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia sejak abad X.

Beberapa di antaranya adalah naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuno ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910). Sastra tersebut merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan seorang pujangga India, Walmiki.

Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Kitab Ramayana dan Kitab Mahabharata ke bahasa Jawa Kuna. Tetapi menggubahnya dan menceritakannya kembali dengan memasukkan falsafah Jawa ke dalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa, yakni Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabharata. Gubahan lain yang lebih nyata perbedaannya dengan cerita asli versi India adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130-1160).

Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai (ada) sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata “mawayang” dan “aringgit”, yang maksudnya adalah pertunjukan wayang.

Akulturasi Kesenian Wayang dengan Islam

Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang. Terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Pada awal abad ke-15, yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran wayang kulit.

Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Kitab Ramayana dan Kitab Mahabharata makin jauh dari aslinya. Dan, sejak zaman itulah, masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam.

Silsilah itu terus berlanjut sampai pada raja-raja di Pulau Jawa. Selanjutnya, mulai dikenal pula adanya cerita wayang aslinya yang sesuai standar cerita dan cerita wayang carangan yang di luar garis standar cerita. Selain itu, masih ada lagi yang disebut lakon sempalan, yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita aslinya.

Demikian pembahasan saya tentang Wayang, semoga kita mendapatkan pandangan yang benar baik disisi kebudayaan maupun keagamaan.

Kejawen Bukan Sebuah Agama

Kejawen Bukan Sebuah Agama

Kejawen – Ada beberapa hal yang membedakan mistik kejawen dengan agama, ajaran, atau mistik-mistik lainnya. Jadi ilmu ini merupakan sebuah kebudayaan, maka jangan sekali-kali Anda menyalah artikan.

Perbedaan Kejawen dan Agama Dilihat dari Panduannya

Kejawen tentu saja tidak memiliki kitab suci sebagaimana layaknya agama-agama yang Ada. Kejawen merupakan pandangan hidup yang sudah turun temurun ribuan tahun melalui proses interaksi antara manusia (jagad kecil/mikrokosmos) dengan jagad raya jagad besar/makrokosmos).

kejawen-2

Manusia dapat membaca rumus-rumus serta hukum alam yang ada dan berlaku meliputi tata kosmos. Pengetahuan akan rumus-rumus dan hukum alam lama-kelamaan mengkristal menjadi tatanan nilai kehidupan manusia dalam berhubungan dengan lingkungan alam dan seluruh makhluk.

Nilai yang menghasilkan kebijaksanaan disebut juga nilai kearifan lokal atau local wisdom. Karena itu, “kitab” bagi spiritual Jawa adalah rangkaian tata kosmos yang penuh dengan pola keseimbangan dan keselarasan yang harmonis. Semua itu dapat dibaca dan dilihat melalui bahasa alam. Lazimnya disebut sebagai sastro jendro, atau segala kejadian dan peristiwa alamiah yang di dalamnya memuat hukum sebab-akibat yang merupakan ketentuan alamiah.

Hukum sebab-akibat dan ketentuan alamiah yang berlaku di jagad raya ini biasanya disebut hukum alam, atau kodrat alam yang dapat menjadi barometer dan petunjuk hidup bagi manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selain itu, kejawen juga mampu melakukan asimilasi dan sinkretisme dengan nilai-nilai agama yang pernah ada di bumi nusantara. “Kitab” kejawen adalah hidup itu sendiri. Hidup yang meliputi jagad gumelar, terdiri dari kehidupan sehari-hari, kesejatian di dalam diri, dan apa yang ada di dalam lingkungan alam sekitarnya. Semua itu disebut sebagai kitab sastra jendra. Cara membacanya bukan dengan ucapan lisan, melainkan dengan perangkat ngelmu titen yang berlangsung turun-temurun. Untuk membaca kitab sastra jendra dengan ngelmu titen, indra yang digunakan adalah indra keenam atau indra batin. Keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam mengolah rahsopongraso,
yakni rasajati atau rahsa sejati.

Kejawen Bersifat Fleksibel dan Mudah berbaur

Di samping nilai-nilai kearifan lokal yang adi luhung, kejawen menjadikan nilai-nilai “impor” yang dinilai berkualitas sebagai bahan baku yang dapat diramu dengan nilai kearifan lokal. Keuntungannya, justru terjadi proses penyempurnaan seperangkat nilai dalam pandangan hidup Jawa atau kejawen. Jika didefinisikan, mistik kejawen merupakan hasil dari interaksi nilai-nilai kearifan lokal yangterjadi sejak zaman kuno pada masa kebudayaan spiritual animisme, dinamisme, dan monotesime hingga saat ini.

Sikap terbuka, menghargai, dan toleransi, serta dasar spiritual cinta kasih sayang membuat kejawen mudah menerima anasir asing yang positif. Berbeda dengan nilai agama yang bersifat statis, Paten, dan anti perubahan, nilai-nilai dalam falsafah hidup Jawa bersifat fleksibel dan selalu berusaha mengolah nilai-nilai kebudayaan asing yang masuk ke Nusantara, misalnya Buddha, Hindu, Islam, Kristen, dan sebagainya.

Yang terjadi bukanlah kebangkrutan nilai-nilai falsafah Jawa itu sendiri, sebaliknya justru terjadi penyempurnaan seiring perjalanan waktu. Sampai-sampai, terdapat acuan, kalau nilai agama masuk sampai mendarah- daging, pandangan hidup Jawa bahkan mbalung-sungsum sehingga tidak pernah lapuk dan selalu eksis. Tidak hanya pada masyarakat usia tua, bahkan masyarakat usia muda banyak pula yang diam-diam menghayati dan mengakui fleksibilitas serta kedalaman falsafah kejawen. Seperti kekuatan misterius, terkadang semangat penghayatan dirasakan tiba-tiba muncul dengan sendirinya seperti panggilan darah.

Ritual Yang Berbeda

Hal yang berbeda lainnya dalam mistik kejawen adalah ritual yang dilakukan oleh penghayat falsafah hidup Jawa. Walaupun latar belakang keagamaan masyarakat Jawa berbeda-beda, namun mereka memiliki unsur kesamaan dalam tata laksana ritual Jawaisme. Perbedaannya hanya terletak pada bahasa yang digunakan dalam doa atau mantra. Namun, hakikat dari ritual sebenarnya sama saja, yakni bertujuan untuk selamatan.

Selamatan adalah tata laku untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan yang Mahasuci, maka di dalam ritual, banyak terdapat uba rampe atau syarat-syarat sesaji yang di dalamnya banyak sekali mengandung maksud permohonan kepada Tuhan.169957_large

Sebagai contohnya, pada saat bulan Ruwah, yang bagi masyarakat Jawa merupakan bulan arwah, dilaksanakan acara selamatan nyadran. Pada saat bulan Ruwah, tepatnya satu bulan menjelang bulan puasa, hendaknya orang memuliakan para arwah leluhurnya, mendoakannya agar mendapat tempat yang mulia, luhur, dan suci. Maka, dibuatlah ketan, kolak, dan kue apam, yang bermakna sedaya kalepatan nyuwun pangapunten-mohon ampunan atas segala kesalahan semasa hidup. Apam berarti afiuwwun, yaitu lambang permohonan ampunan kepada Tuhan.

Kemudian, dilanjutkan acara nyekar atau ziarah dan gotong royong membersihkan serta merawat makam para leluhur sebagai wujud tindakan nyata rasa berbakti dan memuliakan pepundennya. Sebab, bagi masyarakat mistik Jawa, berbakti kepada orang tua dilakukan tidak saja selama masih hidup, namun saat sudah meninggal dunia pun, anak turun tetap harus berbakti kepadanya. Selain itu, tidak ketinggalan pula acara bersih-bersih desa, sungai, hutan, sawah, dan ladang sebagai bentuk kesadaran diri untuk selalu menghargai alam semesta sebagai anugerah terindah Tuhan yang Maha Pemurah.

 

Asal Usul Ilmu Kejawen

Asal Usul Ilmu Kejawen

Ilmu Kejawen – Bagi Anda yang tinggal atau lahir di tanah jawa pasti masih memakai kebudayaan jawa, atau minimal masih menghormati. Memang hal ini tidak bisa dipisahkan dari masyarakat jawa, bagaimana tidak setiap orang tua selalu menurunkan kebudayaan tersebut.

Asal Usul Ilmu Kejawen

Asal usul kejawen sebenarnya bermula dari dua tokoh misteri, yaitu Sri dan Sadono. Sri sejatinya adalah penjelmaan Dewi Laksmi, istri Wisnu, sedangkan Sadono adalah penjelmaan dari Wisnu itu sendiri. Itulah sebabnya, jika ada anggapan bahwa Sri dan Sadono adalah kakak Beradik, kebenarannya tergantung dari mana kita meninjau. Namun, kaitannya dengan hal ini, Sri dan Sadono sesungguhnya adalah suami-istri yang menjadi cikal bakal kejawen. Maka, dalam berbagai ritual mistik kejawen, keduanya selalu mendapat tempat khusus. Dewi Sri dipercaya sebagai Dewi Padi, Dewi Kesuburan.

Dewi Sri dan Wisnu, menurut Tantu Panggelaran, memang pernah diminta turun ke arcapada untuk menjadi nenek moyang di Jawa. Dalam Babad Tanah Jawi juga dijelaskan bahwa orang pertama yang membabad (menempati/tinggal) Tanah Jawa adalah Batara Wisnu. Sumber ini meneguhkan sementara bahwa nenek moyang masyarakat Jawa memang seorang dewa. Dengan demikian, kaum kejawen sebenarnya berasal dari keturunan orang yang tinggi tingkat sosial dan kulturnya. Selanjutnya, Dewi Sri dianggap menjelma ke dalam diri tokoh Putri Daha bernama
Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana, sedangkan Sadono menjadi Raden Panji. Keduanya pernah berpisah, namun akhirnya bertemu kembali. Menurut beberapa sumber, pertemuan Sri dan Sadono atau Panji dan Sekartaji terjadi di Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah. Tempat itu kemudian oleh Sadono dan Sri diberi tetenger tandal, dengan menancapkan Paku Tanah
Jawa.

Hal ini sekaligus untuk mengokohkan Tanah Jawa yang sedang berguncang. Dan, sejak itu, Tanah Jawa kembali tenang. Paku tersebut kelak dinamakan Pakubuwana (Paku Bumi). Pakubuwana inilah yang membuat orang Jawa tenang, sehingga keturunan Sri dan Sa dono menjadi banyak.
Hanya saja, keturunan mereka ada yang baik dan ada yang buruk. Maka, Batara Guru segera menyuruh Semar dan Togog (putra dewa) ke Gunung Tidar. Semar disuruh mengasuh keturunan Sri dan Sa dono yang baik-baik, sedangkan Togog mengikuti keturunan Sri dan Sadono yang angkara murka. Togog dan Semar pun akhirnya menuruti perintah itu, karena merasa Batara Guru sebagai rajanya. Dari kisah-kisah mistik yang telah kita bahas terse but, jelas menggambarkan bahwa sejak dahulu kala, masyarakatkejawen memang sudah banyak berkenalan dengan mistik.
Dengan kata lain, paham mistik telah mengitari mereka.

Baca Juga : Mistik Jawa – Asal Usul Mistik Jawa

Karakter Ilmu Kejawen

Pada umumnya, orang Jawa percaya bahwa semua penderitaan akan berakhir bila telah muncul Ratu Adil. Kepercayaan akan benda-benda bertuah serta melakukan slametan merupakan upaya orang Jawa untuk melakukan harmonisasi terhadap alam sekelilingnya. Selain itu, inti ajaran kejawen adalah amemayu hayuning bawana, yang dimuat dalam Kakawin Arjuna Wiwaha (Mpu Kanwa, 1032).

Kejawen
Wayang Merupakan hasil dari ilmu kejawen

Menjelaskan ajaran ini, Mpu Kanwa menggambarkan tugas seorang pimpinan yang harus memperbaiki dan memakmurkan dunia, seperti dinyatakan dalam Pupuh V bait 4-5. Sunan Pakubuwana IX (1861-1893) menggubah bait tersebut dalam Serat Wiwaha Jarwa menjadi “Amayu jagad puniki kang parahita, tegese parahita nenggih angecani manahing Iyan wong sanagari puniki” (Melindungi dunia ini dan menjaga kelestarian parahita, arti parahita ialah menyenangkan hati orang lain di seluruh negeri ini). Tugas hidup amemayu hayuning bawana, oleh Ki Ageng Suryamentaram dan Ki Hajar Dewantara, dikembangkan menjadi mahayu hayuning sarira, mahayu hayuning bangsa, mahayu hayuning bawana (memelihara dan melindungi keselamatan pribadi, bangsa, dan dunia) Tugas amemayu hayuning bawana jelas merupakan kewajiban bagi setiap orang sebagai pemimpin.

Bisa disimpulkan bahwa kejawen sudah melekat hampir keseluruh masyarakat jawa, lihat saja slogan kepolisian, slogan TNI , slogan “Bhineka Tunggal Ika”, dan banyak lainnya.

Mistik Kejawen – Mengenal Asal-Usul Mistik Kejawen

Mistik Kejawen – Mengenal Asal-Usul Mistik Kejawen

Mistik Kejawen – Pernahkah Anda mendengar istilah mistik kejawen? Saya yakin sebagian besar dari Anda pernah mendengar istilah ini, sekalipun Anda bukan orang Jawa. Di kalangan masyarakat Jawa, mistik kejawen sudah menyatu dan mendarah daging dalam sikap dan perilaku keseharian. Sebagai salah satu contoh, setiap malam-malam tertentu (misalnya malam jumat legi atau malam satu Syuro), masyarakat Jawa akan melakukan ritual-ritual tertentu lengkap dengan uba rampe (syarat) yang diperlukan, seperti sesajen, kembang, kemenyan, dan lain-lain.

Nah, praktik semacam ini merupakan bagian dari perilaku kejawen dalam masyarakat Jawa.Tidak hanya pada hari-hari tertentu saja, di dalam tradisi masyarakat Jawa juga sering diselenggarakan upacara selamatan (slametan) untuk berbagai tujuan, tergantung pada kebutuhan dan keyakinan masyarakat setempat.

Misalnya, selamatan untuk memperingati kelahiran anak, selamatan untuk upacara perkawinan, selamatan untuk memperingati kematian seseorang, selamatan untuk menolak sihir, selamatan untuk pindah rumah, selamatan untuk melawan mimpi buruk agar tidak menjadi kenyataan. Selamatan sebagai wujud syukur atas hasil panen, selamatan untuk mengganti nama, selamatan untuk memohon kepada arwah, dan lain sebagainya.

Untuk beberapa tujuan itulah, selamatan sudah menjadi hal yang biasa dilakukan secara berkala oleh masyarakat Jawa. Meski sebagian besar dari Anda telah sangat familiar dengan istilah mistik kejawen, namun tahukah Anda apa sebenarnya yang dimaksud mistik kejawen itu?.

Mistik Kejawen Bukanlah Agama

Mungkin Anda perlu berpikir dua kali bahkan lebih untuk menjawab pertanyaan ini. Sebab, diakui ataupun tidak, meski mayoritas masyarakat Jawa dalam tradisi kesehariannya tidak bisa luput dari praktik kejawen, namun banyak dari mereka yang belum memahami makna dari istilah itu sendiri. Sehingga, muncul banyak anggapan dan pemahaman yang kurang tepat mengenai mistik kejawen di kalangan masyarakat Jawa.

Ada yang menganggapnya sebagai agama, kebudayaan, kepercayaan, dan berbagai prakonsepsi keliru lainnya. Lantas, apakah sebenarnya mistik kejawen itu? Sebelum kita mendefinisikan mistik kejawen secara utuh, mari kita definisikan terlebih dahulu berdasarkan asal kata penyusunnya, yakni mistik dan kejawen. Menurut asal katanya, kata mistik berasal dari bahasa Yunani, mystikos, yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinnig), tersembunyi (verborgen), gelap (donker), atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).

Sesaji Adalah Syarat dari sebuah Selamatan

Berdasarkan arti tersebut, maka mistik sebagai sebuah paham (disebut mistisisme) dapat dimaknai sebagai paham yang memberikan ajaran yang serbamistis (misal ajarannya berbentuk rahasia atau serbarahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman), sehingga hanya dikenal, diketahui, atau dipahami oleh orang – orang tertentu saja, terutama sekali para penganutnya. Mistisisme juga dapat disebut sebagai manunggaling kawulo-Gusti.

Kejawen adalah sebuah kepercayaan oleh masyarakat suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Pulau Jawa. Kata kejawen berasal dari bahasa Jawa, yang artinya segala yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa. Penamaan “kejawen” bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, kejawen merupakan bagian dari agama lokal indonesia.

Kejawen, dalam opini umum, berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap, serta filosofi orang-orang Jawa. Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan “ibadah” ). Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat, dan menekankan pada konsep “keseimbangan”. Dalam pandangan demikian, kejawen memiliki kemiripan dengan Konfusianisme atau Taoisme, namun tidak sama pada ajaran-ajarannya. Hampir tidak ada kegiatan perluasan ajaran (misi), namun pembinaan dilakukan secara rutin.

Mistik Kejawen
Wayang Merupakan Tradisi Mistik Kejawen

Pengertian Mistik Kejawen

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mistik kejawen adalah gejala religi unik. Keunikan mistik kejawen juga terletak pada pemanfaatan ngelmu titen yang telah berlangsung secara turun-temurun. Kehidupan sehari-hari, tubuh, dan lingkungan sekitarnya adalah sumber “kitab” mistik kejawen. Bahkan, “kitab” mistik kejawen adalah hidup itu sendiri. Adapun “hadits” dan jantung pelaksanaan tradisi kejawen menggunakan slametan. Jadi, slametan adalah inti tradisi kejawen yang menjadi wahana mistik. Melalui slametan, ritual mistik mendapatkan jalan lurus menuju sasaran, yakni Tuhan Yang Maha Esa.