Ajian Pengasihan

Ajian Pengasihan – Ilmu ini laku tirakatnya cukup lama, yaitu, selama 7 bulan setiap hari Senin dan Kamis ( dimulai hari Senin KliWon) melakukan puasa biasa seperti puasa ramadhan yaitu melakukan buka dan sahur. –Kibaguswijaya.com

Ajian Pengasihan

Sedangkan mantranya dibaca ketika ada perlu, terutamanya jika ingin menarik simpati orang banyak.

Adapun mantranya sebagai berikut:

Bismillahir rahmanir rahiim
Sallallaahu alaihi wasallam
Gebyar-gebyar ana payung saka wetan
Mayungi badan ingsun Ingsun putrane mbok randha gawean
Apa kang sun sedya teka gampang mara dewe
Ingsun kekasihe kanjeng nabi Sulaiman Lan wong sabuwana kabeh.

Alternatif lain, anda dapat melakukan puasa selama 21 hari dan pada hari yang terakhir melakukan pagiteni (tidak makan, minum, tidur, tidak keluar dari kamar kecuali untuk haI yang sangat penting).

Adapun mantranya sebagai berikut:

Bismillahir rahmanir rahiim
Ya Wadudu x 33

Cara mengamalkannya, basmalah dibaca sekali saja, kemudian asmaul husna “Ya Wadudu” dibaca 33 setiap usai shalat lima waktu selama masa tirakat. Untuk selanjutnya, asmaul husna itu dijadikan amalan rutin (wirid) minimal dua kali pagi-malam atau setelah shalat subuh dan mahrib, juga denganjumlah hitungan 33 (tiga puluh tiga) kali ulangan. Sedangkan jika dilengkapi lima waktu shalat tentu lebih baik.

Untuk solusi yang lebih praktis daripada Ajian Pengasihan, kami menyediakan sarana spiritual praktis. Jika Anda berminat, silahkan menghubungi kami pada nomor 0816577880 Devi.

3 Pantangan Menggunakan Batu Mustika Lipan

Batu Mustika Lipan adalah sebuah batu mustika yang memiliki energi perlindungan pengasihan dan sebagainya. Mustika lipan kini dicari banyak orang karena manfaat yang bisa didapatkan ketika menggunakan mustika lipan tersebut. Namun penggunaan mustika lipan memiliki pantangan yang harus dihindari, apa saja pantangan penggunaan mustika lipan berikut adalah 3 pantangan menggunakan mustika lipan.

Batu Mustika Lipan

3 pantangan menggunakan batu mustika lipan

  1. Jangan Menggunakan Mustika Lain

    Menggunakan mustika lipan dibarengi dengan penggunaan batu mustika lain dikhawatirkan akan terjadi gesekan energi. Hal inilah yang mampu membuat energi dari batu mustika entah itu batu yang lain atau mustika lipan nya energinya bisa menghilang atau bahkan energinya bisa menjadi energi negatif.

    Untuk itu pantangan yang pertama adalah jangan menggunakan mustika lain dibarengi dengan mustika lipan ini

  2. Jangan Di Pakai Untuk Hal Negatif

    Penggunaan mustika lipan sebenarnya hanya dikhususkan untuk hal positif. Namun Apa yang terjadi jika seseorang menggunakan mustika lipan dipakai untuk hal negatif, ternyata yang menggunakan mustika lipan sebagai sarana hal negatif.

    Akan mendapatkan karma di kemudian hari misalkan untuk menggunakan sebagai sarana judi sarana untuk melihat yang tidak baik dan lain sebagainya

  3. Jangan Di Pakai Untuk Sombong

    Pantangan yang ini seseorang yang menggunakan mustika lipan jangan sampai sombong jangan sampai Anda suka pamer di depan orang lain.

    Terkadang orang yang menekan mustika lipan merasa dirinya sudah paling kuat kebal bahkan terang-terangan ditunjukkan kepada umum.

    Nah Hal inilah yang tidak baik karena bisa saja ketika anda menggunakannya tiba-tiba energi yang hilang dan anda bisa terluka.

Baca Juga: Batu Akik Kecubung Apakah Sebuah Batu Mustika?

 

Itulah 3 pantangan menggunakan batu mustika lipan yang harus anda ketahui mustika lipan adalah sarana yang bermanfaat untuk manusia jika manusia tersebut mau menggunakan mustika lipan dengan benar dan untuk hal yang positif saja

Nah Bagaimana cara mendapatkan mustika lipan ini anda bisa menghubungi kami di nomor yang sudah tertera di bawah ini 0816577880 devi

Mengenal Manfaat Batu Mulia, Di lihat Dari Prespektif Umum

Tahukah Anda, ternyata, batu mulia tidak hanya bisa dinikmati dari sisi keindahannya, melainkan juga dapat dimanfaatkan dalam beragam keperluan. Lantas, apa sajakah kegunaan batu mulia itu? Mari kita simak uraian selengkapnya.

  1. Dijadikan Aksesoris (perhiasan)

    Sudah sejak lama, yakni mulai dari berabad-abad yang lalu  sampai saat ini, batu mulia dimanfaatkan sebagai perhiasan.  Sementara itu, beberapa jenis batu mulia, di antaranya
    berlian, safir, dan ruby, bisa meningkatkan prestise bagi para penggunanya. Selain itu, batu mulia jenis berlian juga digunakan oleh laki-Iaki untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada perempuan yang menjadi pujaan hatinya.

  2. Mengandung Khasiat Tertentu

    Batu mulia mengandung energi positif. Nah, energi positif itulah yang mampu memperbaiki aura-aura yang rusak pada tubuh manusia. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika
    orang-orang yang mengoleksi batu mulia senantiasa tampak awet muda.

    Ternyata, beberapa jenis batu mulia diyakini pula mengandung tuah atau khasiat tertentu. Sebagai contoh, batu tiger eye diyakini bisa melindungi penggunanya selama dalam
    perjalanan. Batu jenis itu pun diyakini mampu mengalihkan ataupun membelokkan niatjahat orang lain terhadap pengguna batu tersebut.

    Kita contohkan sebagai berikut:

    Di bidang marketing, batu safir biru dipercaya bisa menciptakan komunikasi yang hangat di antara pihak penjual dan calon pembeli. Sedangkan, batu amethyst  atau kecubung diduga mempunyai energi pengasihan. Maka dari itu, jika seorang marketer atau sales memakai batu jenis ini, maka calon pembeli akan membeli produk yang ditawarkan atau dijualnya.

     

     


    Beberapa batu permata juga diyakini mempunyai khasiat berupa bisa menghadirkan kewibawaan, penolak bala, pelindung, serta pembawa keberuntungan. Namun, terkait itu,
    perlu dipahami bahwa kebenaran khasiat tersebut tidak dapat dijelaskan secara ilmiah. Dengan begitu, Andalah yang mesti menentukan jenis batu permata yang cocok bagi Anda.

  3. Mampu Menyembuhkan PenyakitPada hakikatnya, tubuh manusia dikelilingi oleh aura berwarna-warni. Itu bisa diketahui dengan menggunakan suatu peralatan yang disebut foto aura. Dalam upaya penyembuhan dengan terapi batu mulia, aura-aura yang telah menghilang ataupun berkurang dari diri manusia dapat diisi kembali dengan batu mulia yang warnanya sesuai warna aura dalam diri manusia tersebut. Nah, aura berwarna-warni yang mengelilingi tubuh manusia itulah, yang diyakini bisa mengendalikan pikiran, perasaan, pernapasan, penglihatan, dan aktivitas man usia.

    Sebagai buktinya, kebanyakan orang menyatakan bahwa mereka “kurang enak badan’: Padahal, mereka sejatinya tidak dapat menunjukkan bagian tubuh mana yang dirasakan”kurang enak” tersebut. Dalam kondisi seperti itu, yang sebenarnya terjadi adalah aura yang mengelilingi tubuh mereka sedang tidak seimbang. Di bidang pengobatan kuno, batu jadeite atau giok diyakini mampu mengatasi gangguan ginjal. Maka dari itu, batu jenis ini sering kali disebut batu ginjal. Selain itu, batu heliotrope dipercaya pula bisa menghentikan pendarahan pada hidung. Sedangkan, batu intan sanggup memberikan imun tubuh terhadap racun. Sementara itu, batu amethyst diyakini dapat menjadikan orang-orang tahan mabuk.

  4. Sebagai Sarana Investasi

     

    Selain dikoleksi, baru-baru ini, batu mulia dijadikan sebagai  sarana investasi jangka panjang. Sebagai contoh, beberapa negara di Eropa dan Afrika menambang batu intan, kemudian mengasahnya, sehingga bisa menjadi berlian bernilai ekonomi tinggi. Bahkan, beberapa negara di dunia memonopoli batu mulia jenis tertentu demi meningkatkan kemakmuran bangsa mereka.



  5. Di Gunakan Dalam IndustriDi bidang industri, batu safir dimanfaatkan dalam pembuatan kaca tahan gores, seperti kaca pada jam tangan. Selain itu, batu intan juga digunakan untuk melapisi pisau pemotong dan alat pengeboran minyak. Sedangkan, batu ruby dimanfaatkan untuk membuat peralatan laser. Tentunya, masih banyak lagi jenis batu mulia yang digunakan dalam bidang industri.

Liontin Cakra Maludara

Halo apa kabar sahabat semuanya Saya tahu rasanya dipermalukan ketika di pinggir lapangan Anda dipermalukan kok lompatnya pendek banget, kok pukulannya, enggak keras mainanmu jelek yang pasti itu yang diucapkan para teman-teman anda ketika anda tidak bisa menggunakan teknik ketika bermain voli ataupun tidak maksimal dalam permainan.

Nah pada halaman ini, anda akan mendapatkan informasi menarik mengenai sarana azimah voli berupa liontin cakra maludara. Apa itu liontin Cakra?

Sebelum saya jelaskan luangkan waktu sedikit untuk klik tombol subscribe yang ada di handphone kalian di pojok kiri bawah warna merah. Ok lanjut,

Azimah Voli Liontin Cakra Maludara

Sebenarnya apa itu liontin cakra maludara kok bisa disebut dengan azimah voli. Jadi begini sahabat semuanya, untuk liontin cakra maludara adalah sarana spiritual yang sudah saya ritual kan selama 33 hari puasa. Dan sudah melalui proses ritual lain untuk pembersihan dan penguncian.

Azimah Voli

Nah untuk manfaatnya sendiri adalah meningkatkan lompatan meningkatkan pukulan dan meningkatkan stamina penggunaannya. 

Azimah Voli ini juga memiliki khasiat yang bisa meningkatkan keberuntungan Anda. Khasiat ini tidak hanya bisa Anda rasakan dalam pertandingan saja, tetapi dalam kehidupan sosial Anda yang berkaitan dengan asmara, pekerjaan, jual beli, dan lain sebagainya.

Saya Tedi, pelajar di sebuah SMA ternama di Bali, semenjak saya menggunakan Jimat Voli Dhedeg Jayeng saya merasakan perubahan kualitas permainan saya yang lebih baik. Intensitas kekalahan dalam permainan semakin tipis dibandingan kemenangan, sehingga saya semakin mantab bahwa jimat ini sangat berkhasiat dalam membantu meningkatkan skil permainan voli saya. Tedi – Bali 

Dan pada intinya seluruh khasiat pada jimat ini tidak hanya berlaku pada saat Anda menjalankan pertandingan, tetapi juga pada saat Anda latihanl, atau meladeni pertandingan persahabatan atau sparing.

Bila Anda mengunakan jimat ini sesuai panduan, jimat ini juga bisa membantu meningkatkan skil permainan Anda. Bahkan di saat Anda terus berlatih, jimat ini membantu untuk memaksimalkan fisik Anda.

Sehingga dengan latihan yang maksimal dan istikomah, Anda akan memiliki hantaman yang keras, pertahanan yang kuat, dan kecerdikan untuk bermain apik.Untuk lebih jelasnya Anda bisa berkonsultasi dengan kami, melaui PusatJimat.com Mbak Devi Kumala di nomor 0816577880.

Serat Darmagandhul Part 1

Darmagandhul – Pada suatu hari bertanyalah Darmagandhul pada Kalamwadi sebagai berikut, “Asal mulanya bagaimana, kok orang Jawa meninggalkan Agama Buddha dan berubah menganut Agama Islam?”

Jawabannya Ki Kalamwadi, “Saya sendiri juga tidak begitu mengerti, tapi saya sudah pernah diberi tahu oleh guru saya, selain itu guru saya itu juga bisa dipercaya, [Beliau] menceritakan asal mulanya orang Jawa meninggalkan Agama Buddha dan berganti menganut agama Rasul (Islam).”

Darmagandhul bertanya, “Bagaimana kalau begitu ceritanya?”

Ki Kalamwadi lalu berkata lagi, “Hal ini sesungguhnya juga perlu diungkapkan agar orang yang tidak tahu asal mulanya menjadi tahu.”

Pada zaman kuno, Kerajaan Majapahit itu namanya Kerajaan Majalengka, sedangkan nama Majapathit itu, hanya sebagai perumpamaan, tetapi bagi yang belum tahu ceritanya, Majapahit itu telah merupakan namanya semenjak awal.

(1) Di Kerajaan Majapahit yang berkuasa sebagai Raja adalah Prabu Brawijaya.  Pada saat itu, Sang Prabu sedang dimabuk asmara, ia menikah dengan Putri Cempa,

(2) karena Putri Cempa itu beragama Islam, maka saat sedang berdua-duaan, Sang Putri [selalu] berbicara pada sang Raja, mengenai agama Islam. Tiap kali berkata-kata, tidak ada hal lain yang dibicarakan, selain mengagung-agungkan agama Islam, sehingga menyebabkan tertariknya hati Sang Prabu akan agama Islam.

Tidak berama lama datanglah pengikut Putri Cempa yang bernama Sayid Rakhmat ke Majalengka. Ia minta izin pada sang raja, untuk menggelar penyebaran agama Rasul (Islam).

Sang Prabu juga mengabulkan apa yang diminta oleh Sayid Rakhmat itu. Sayid Rakhmat lalu mendirikan sebuah desa kecil (dukuh) di Ngampeldenta, Surabaya. Ia mengajar agama Islam di sana. Selanjutnya makin banyak para ulama dari seberang yang datang. Para ulama dan para maulana itu beramai-ramai menghadap sang raja di Majalengka, serta sama-sama meminta desa kecil di daerah pesisir.

Permintaan tersebut juga dikabulkan oleh Sang Raja. Lama-lama perkampungan kecil semacam itu makin menjamur, orang Jawa makin banyak yang beragama Islam.

Sayid Kramat menjadi gurunya orang-orang yang sudah menganut agama Islam. Tempat menetapnya berada di Benang (juga disebut Bonang – penterjemah), Tuban. Sayid Kramat itu adalah pemuka agama yang berasal dari Arab, atau tempat kelahirannya Nabi Muhammad, sehingga dapat menjadi gurunya para penganut agama Islam. Banyak orang Jawa yang berguru pada Sayid Kramat. Orang Jawa di pesisir utara, baik bagian barat maupun timur, sama-sama meninggalkan agama Buddha dan berpindah masuk Islam. Dari Blambangan ke arah barat hingga Banten, banyak orang yang telah mematuhi perkataan Sayid Kramat.

Pada saat itu agama Buddha telah dianut di tanah Jawa selama seribu tahun, para penganutnya menyembah pada Budi Hawa. Budi adalah Zat dari Hyang Widdhi, sedangkan Hawa itu adalah kehendak hati. Manusia itu tidak dapat berbuat apa-apa selain berusaha menjalankan, tetapi budi yang mengubah segalanya.

Raja Brawijaya memiliki putra dari seorang putri berkebangsaan Cina. Putranya itu lahir di Palembang, dan diberi nama Raden Patah.

Tatkala Raden Patah sudah dewasa, ia mengunjungi ayahnya. Ia memiliki saudara lain ibu yang bernama Raden Kusen. Setibanya di Majalengka Sang Prabu bingung hatinya untuk memberi nama pada puteranya. Sebab menurut tradisi leluhur Jawa yang beragama Buddha, putra raja yang lahir di gunung, disebut Bambang.

Kalau menurut ibunya, namanya adalah Kaotiang, yaitu kalau dalam bahasa Arab disebut Sayid atau Sarib. Sang Prabu lalu memanggip para patih dan pegawai kerajaan. Mereka diminta pendapatnya di dalam memberikan nama bagi putranya itu. Patih berkata bahwa kalau menurut leluhur zaman dahulu, anak raja itu seharusnya diberi nama Bambang, tetapi karena ibunya berkembangsaan Cina, maka seharusnya disebut Babah, yang artinya lahirnya ada di negara lain.

Pendapat sang patih tersebut juga disepakati oleh para pegawai kerajaan. Oleh karenanya sang raja mengumumkan bahwa putranya itu yang lahir di Palembang, diberi nama Babah Patah. Hingga sampai sekarang, orang yang berdarah campuran Cina dan Jawa diberi nama Babah.

Babah Patah, takut kalau tidak mematuhi sabda bapaknya, karena itu bersikap seolah-olah senang. Padahal ia tidak benar-benar senang- senang diberi nama Babah.

Kemudian Babah Patah diangkat menjadi bupati di Demak, untuk mengepalai para bupati di pesisir Demak ke arah barat. Babah Patah lalu diperintahkan untuk berguru di Ngampelgadhing, yang kebetulan dikepalai oleh Kyai Ageng Ngampel.

Ketika waktunya telah tiba, ia pindah ke Demak, yakni ke desa Bintara. Sebetulnya Babah Patah telah beragama Islam saat di Palembang. Oleh sebab itu, tatkala telah berada di Demak, ia diperintahkan untuk melestarikan agamanya. Sedangkan Raden Kusen diangkat menjadi adipati di Terung, dan diberi gelar Raden Arya Pecattandha.

Makin lama agama Rasul makin menyebar luas, para ulama menjadi ingin memiliki gelar, dimana kemudian mereka digelari Sunan. Sunan itu artinya budi, pohon pengetahuan kesadaran pada yang baik dan buruk. Jika buah budi itu menyadari akan kebaikan, maka ia wajib menuntut ilmu lahir dan bathin. Pada saat itu para ulama masih memiliki hati yang baik, belum memiliki keinginan buruk, masih menahan diri dari makan dan tidur.

Sang Prabu Brawijaya jadi jatuh hati, para ulama itu dikiranya Buddha, tetapi kok disebut Sunan. Tingkah laku mereka masih menahan diri dari makan dan tidur. Apabila mengikuti rasul, maka mereka [seharusnya] bukan menahan diri dari makan dan tidur, melainkan hanya menuruti hawa nafsu keinginan. Tatkala kebiasaan menahan diri dari makan dan tidur telah rusak, tetapi Prabu Brawijaya telah terlanjur memberikan angin. Makin lama agama rasul makin menyebar.

Pada saat itu ada peristiwa-peristiwa yang aneh yang tidak masuk akal. Peristiwa-peristiwa tersebut diketahui dari ingatan semata. Apabila membaca atau mendengar, maka perlu dipertimbangkan benar dan tidaknya. Tetapi karena sampai sekarang masih ada peninggalannya, maka menurut pendapatku hal tersebut benar-benar terjadi.

Pada saat itu Sunan Benang bersiap-siap untuk mengunjungi Kediri, yang mengantarnya hanya dua orang sahabat. Ketika tiba di utara Kediri, yaitu di tanah Kertasana, mereka terhalang oleh air. Sungai Brantas saat itu kebetulan sedang banjir. Sunan Benang dan dua orang sahabatnya sama-sama menyeberang, dan ketika telah tiba di seberang ia mencari tahu apakah orang di sana telah beragama Islam, ataukah masih menganut agama Budi.

Menurut Ki Bandar, orang di sana agamanya Kalang, bukan Buddha namun mirip, sedangkan agama Rasul masih sedikit sekali tersebarnya.

Orang di sana yang sebagian besar beragama Kalang memuliakan Bandung Bandawasa. Bandung dianggap nabi mereka. Pada saat hari perayaan keagamaan mereka bersama-sama makan enak dan bersenang-senang di rumah. Sunan Benang berkata, “Jika begitu maka orang di sini sama- sama beragama Gedhah, Gedhah itu tidak hitam ataupun putih. Tempat ini pantas disebut Kutha Gedhah.”

Ki Bandar menjawab, “Baik, yang mulia, saya yang menjadi saksi.” Tempat di bagian utara Kediri namanya mulai sekarang adalah Kutha Gedhah.” Hingga saat ini masih disebut dengan Kutha Gedhah, tetapi orang jarang mengetahui asal mula nama tersebut.

Sunan Benang berkata pada sahabatnya, “Carilah air minum di desa, sungai masih banjir dan airnya keruh. Jika diminum maka akan menyebabkan sakit perut. Selain itu sudah waktunya salat Lohor. Saya mau wudhu untuk salat”

Salah seorang sahabatnya lalu pergi ke desa mencari air minum. Ia sampai di desa Pathuk dan menjumpai rumah yang nampaknya tidak ada prianya. Yang ada hanya seorang gadis perawan menjelang dewasa, dimana saat itu ia sedang menenun. Sahabat Sunan Benang mendekat serta berkata perlahan, “Mbok Nganten (panggilan terhadap wanita dalam bahasa Jawa), saya minta air minum yang bening dan bersih.” Gadis perawan itu terkejut mendengar suara pria, ketika menoleh ia melihat seorang pria yang nampaknya mirip santri.

Gadis perawan tersebut salah sangka, ia mengira orang tersebut ingin menggodanya, maka dijawabnya dengan perkataan kotor, “Anda menyeberang sungai datang kemari untuk minta air minum. Di sini tidak ada air minum, selain air kencing saya yang bening, jika Anda ingin meminumnya.”

Sang santri yang mendengar ucapan kotor itu pergi tanpa pamit dan jalannya dicepat-cepatkan. Ia menggerutu dalam hati dan menceritakan pengalamannya di hadapan Sunan Bonang. Ketika mendengar hal itu Sunan Bonang marah sekali, ia kemudian mengucapkan sumpah serapah pada warga desa tersebut. Tempat itu dikutuk agar susah mendapatkan air, para gadisnya akan terlambat menikah dan demikian pula kaum perjakanya. Sesudah kutukan tersebut diucapkan aliran Sungai Brantas menjadi kecil. Aliran sungai yang pada mulanya besar itu menyimpang dan membanjiri desa, sawah, dan ladang. Banyak desa yang rusak karena diterjang aliran sungai yang berpindah alirannya. Sungai yang pada mulanya deras alirannya itu menjadi surut. Hingga saat ini tempat tersebut menjadi susah air serta gadis dan perjakannya terlambat menikah. Sunan Benang melanjutkan perjalanannya ke Kediri.

Pada waktu itu ada seorang makhluk halus bernama Nyai Plencing, yakni makhluk halus yang berdiam di sumur Tanjungtani. Anak cucunya para berkeluh kesah padanya, mereka melaporkan tindakan orang bernama Sunan Benang yang kegemarannya menyiksa para makhluk halus serta memamerkan kesaktiannya. Sungai yang mengalir di Kediri dijadikan surut airnya serta berpindah alirannya ke arah lain yang tidak seharusnya. Sehingga banyak desa, hutan, sawah, dan ladang yang rusak. Semua itu akibat ulah Sunan Bonang.

Sunan Bonang juga mengutuk orang di sana, gadis dan perjaka akan terlambat kimpoi. Sunan Benang itu kegemarannya bertindak salah. Anak cucu Nyai Plencing bersama-sama memohon Nyai Plencing agar bersedia menyantet Sunan Benang sampai mati dan tidak menganggu mereka lagi. Nyai Plencing yang mendengar keluh kesan anak cucunya itu, segera pergi menjumpai Sunan Benang. Tetapi makhluk-makhluk halus tersebut tidak dapat mendekati Sunan Benang, karena tubuh mereka serasa panas terbakar.

Makhluk-makhluk halus itu lalu lari ke Kediri. Ketika tiba di sana mereka melaporkan pada rajanya segala hal yang mereka alami. Raja makhluk halus itu berdiam di Selabale, namanya adalah Buta Locaya. Selabale itu letaknya ada di kaki gunung Wilis. Buta Locaya itu adalah patih Sri Jayabaya, dulu namanya adalah kyai Daha dan memiliki adik bernama Kyai Daka. Kyai Daha itu asal usulnya ada di Kediri. Pada saat Sri Jayabaya tiba di sana, nama Kyai Daha itu dijadikan nama negara dan ia kemudian diberi nama Buta Locaya dan dijadikan patih oleh Sang Prabu Jayabaya.

Buta itu artinya buteng atau bodoh, Lo itu artinya kamu, caya artinya bisa dipercaya. Sehingga Kyai Buta Locaya itu artinya bodoh, tetapi kawan yang setia dan patuh pada pimpinannya. Oleh karena itu ia dijadikan patih. Yang pertama kali bergelar kyai adalah Kyai Daha dan Kyai Daka. Kyai itu artinya mengayomi anak cucu dan orang-orang yang berada di kanan-kirinya.

Sang raja lalu menuju ke rumah Kyai Daka. Di sana Sang Prabu Jayabaya beserta seluruh pengikut dan pengawalnya disambut dengan meriah, sehingga sang raja sangat mengasihi Kyai Daka. Nama Kyai Daka dijadikan nama desa dan selain itu ia diberi gelar Kyai Tunggulwulung serta diangkat menjadi panglima perang.

Ketika Sang Prabu Jayabaya dan putrinya yang bernama Ni Mas Ratu Pagedhongan telah moksha, maka Buta Locaya dan Kyai Tunggulwulung juga ikut moksha. Ni Mas Ratu Pagedhongan menjadi ratu makhluk halus
seluruh Jawa. Pusat kerajannya ada di laut selatan dan digelari Ni Mas Ratu Anginangin. Seluruh makhluk halus yang ada di lautan dan daratan serta juga kanan kiri Tanah Jawa bersama-sama takluk pada Ni Mas Ratu Anginangin. Buta Locaya kediamannya ada di Selabale, sedangkan Kyai Tunggulwulung ada di Gunung Kelut. Ia mengawasi dan dan lahar agar supaya saat lahar keluar tidak merusak desa dan lain sebagainya.

Waktu itu Kyai Buta Locaya sedang duduk di singgasananya yang dialasi kasur permadani. Datang mengahadap patihnya bernama Megamendhung dan dua putra tertuanya juga hadir. Yang lebih tua bernama Panji Sektiguna dan adiknya bernama Sarilaut.

Buta Locaya sangat terkejut dengan laporan Nyai Plencing mengenai tingkah polah Sunan Benang yang merusak tanah di utara Kediri. Ia mengatakan bahwa Sunan Benang yang merusak itu orang dari Tuban yang berkelana ke Kediri. Nyai Plencing mengisahkan penderitaan para makhluk halus dan manusia.

Buta Locaya mendengar laporan Nyai Plencing itu menjadi sangat marah. Wajahnya menjadi merah padam bagaikan api. Ia segera memanggil anak-anaknya dan juga para makhluk halus jin serta peri. Ia mengajak mereka melawan Sunan Benang. Para makhluk halus itu bersiap-siap untuk perang. Mereka berjalan secepat angin, tidak berapa lama mereka tiba di utara desa Kukum, di sana Buta Locaya beralih wujud menjadi manusia yang bernama Kyai Sumbre. Ia kemudian berdiri di tengah jalan, di bawah pohon sambi, menghadang perjalanan Sunan Benang dari utara.

Tidak lama kemudian, Sunang Bonang datang dari arah utara. Ia sudah mengetahui bahwa yang berdiri di bawah pohon itu rajanya makhluk halus yang terlah bersiap-siap untuk menganggu dirinya. Dimana hal itu diketahui dari hawa panas yang keluar dari makhluk halus tersebut. Para makhluk halus yang berjumlah banyak tersebut bersama- sama menyingkir jauh-jauh karena tidak tahan dengan hawa kekuatan Sunan Bonang. Namun Sunan Bonang juga tidak tahan berada di dekat Kyai Sumbre, karena kemanapun Sunan Bonang menyingkir, maka Kyai Sumbre ada di tempat itu pula.

Dua orang sahabat Sunan Bonang pingsan, karena kedinginan. Mereka tidak tahan terkena hawa kekuatan Kyai Sumbre.

Sunan Bonang menegur Kyai Sumbre, “Buta Locaya! Kamu menghadang jalanku, serta menyamar sebagai Sumbre. Apa kamu cari mati?”

Buta Locaya terkejut bukan main, karena Sunan Bonang mengetahui namanya, sehingga ia merasa ketahuan rahasianya. Lalu bertanyalah ia pada Sunan Bonang, “Darimana Anda dapat mengetahui bahwa saya adalah Buta Locaya?”

Sunan Bonang berkata, “Aku tidak tertipu, aku tahu bahwa engkau adalah rajanya para makhluk halus di Kediri, namamu adalah Buta Locaya.”

Kyai Sumbre menjawab pada Sunan Bonang, “Anda itu orang mana, kok tingkah lakunya tidak sopan, beda dengan adat istiadat Jawa. Seperti belalang saja [loncat sini loncat sana.”

Sunan Bonang berkata lagi, “Aku orang Arab, namaku adalah Sayid Kramat, sedangkan rumah saya ada di Bonang, Tuban. Aku ke Kediri karena ingin melihat peninggalan istana Sang Prabu Jayabaya. Istana tersebut dulunya berada di mana?”

Buta Locaya menjawab, “Di sebelah timur itu, yakni di desa Menang, semua peninggalan telah musnah, istana serta tempat pesanggrahan juga telah tiada lagi. Istana dan taman istana Bagendhawati milik Ni Mas Ratu Pagedhongan juga telah musnah, pesanggrahan Wanacatur juga telah sirna, yang tertinggal adalah nama desa itu. Semua itu musnah tertimbun tanah pasir dan lahar dari gunung Kelut.

Sekarang saya hendak bertanya, Anda menyiksa anak cucu Adam, mengucapkan sesuatu yang tidak patut diucapkan. [Mengutuk] orang menjadi perawan dan perjaka tua, dan juga mengubah nama menjadi Kutha Gedhah, memindah aliran sungai, dan selanjutnya mengutuk bahwa di daerah ini akan susah air. Itu namanya tindakan yang tidak berguna, menyiksa orang lain yang tak bersalah, menyebabkan susahnya kehidupan orang lain. Lelaki susah menemukan jodohnya.

Tindakan itu bertentangan dengan titah dari Latawalhujwa. Semua itu berasal dari kutukan Anda, begitu besarnya kesusahan orang yang kebanjiran. sungai Kediri berubah alirannya dan menerjang desa, hutan, sawah, berapa banyak yang rusak. Sedangkan di sini, Anda kutuk selamanya susah air, sungainya surut. Anda itu hanya menyiksa orang lain yang tidak bersalah.”

Sunan Bonang berkata, “Tempat ini aku ganti namanya menjadi Kutha Gedhah, karena orang di sini agamanya tidak hitam tidak putih, tepatnya agama biru, yakni agama Kalang. Aku kutuk susah air, karena saya minta air minum tidak boleh.

Oleh karenanya, air sungainya saya rubah alirannya. Semua yang berada di sini saya kutuk susah air. Saya mengutuk agar orang di sini menjadi perawan dan perjaka tua, karena tidak bersedia memberikan saya air minum, yaitu gadis perawan kurang ajar itu.”

Buta Locaya berkata lagi, “Itu namanya orang yang tanpa pertimbangan. Kesalahan tidak seberapa, dan selain itu hanya satu orang yang bersalah, tetapi Anda telah membuat susah orang banyak sekali. Tidak sesuai dengan hukumannya. Anda itu namanya membuat susah orang banyak. Seandainya diketahui yang memiliki negara, maka Anda akan dihukum melarat sekali, karenanya merusak tanah. Sudah begini saja, Anda tarik kembali kutukan Anda.

Di sini menjadi melimpah air kembali, sehingga bisa untuk bercocok tanah. Pria dan wanita dapat kembali menikah pada usia mudah, sesuai dengan titah dari Hyang Manon. Anda itu bukan Narendra (gelar Wisnu, mungkin yang dimaksud Tuhan – penterjemah), tetapi kok datang-datang mengharubiru agama. Itu namanya orang berengsek.”

Sunan Bonang berkata, “Meskipun kamu laporkan Raja Majalengka saya tidak takut.”

Buta Locaya setelah mendengar bahwa Sunan Bonang tidak takut pada Raja Majalengka menjadi makin marah, kata-katanya menjadi keras, “Anda itu jelas sekali tidak mencerminkan seseorang yang bijaksana dan berbudi luhur, melainkan lebih tepat lagi disebut dengan gelandangan (bahasa asli apabila diterjemahkan secara harafiah adalah orang yang tinggal dalam rumah bambu- penterjemah). Beraninya hanya mengandalkan kesaktiannya. Bersikaplah rendah hati sehingga dikasihi oleh Hyang Widdhi, dikasihi oleh sahabat, dan bukannya bertindak semau-maunya sendiri dengan tidak melihat kesalahannya. Itu namanya orang jahat yang tidak menimbang dulu permasalahannya.

Di tanah Jawa ini, khan banyak orang yang kesaktiannya melebihi Anda, namun semuanya itu berbudi luhur dan tidak berusaha mengungguli para dewa. Mereka sama sekali tidak menyiksa orang lain tanpa melihat kesalahannya terlebih dahulu. Mengapa Anda meniru Aji Saka, muridnya Ijajil?

Aji Saka menjadi raja tanah Jawa, tetapi tiga tahun kemudian pergi meninggalkannya, sumber air yang ada di Medhang juga dibawanya pergi. Aji Saka orang dari India, sedangkan Anda adalah orang Arab, karena itu sama-sama tidak menghargai sesama manusia. Sama-sama membuat sulit air. Anda itu mengaku-ngaku sebagai Sunan, khan seharusnya berbudi luhur, menciptakan kebajikan bagi orang banyak, tetapi kok malah tingkah lakunya seperti itu. Anda itu seperti iblis tingkah lakunya. Tidak tahan digoda oleh anak kecil, lalu bangkit nafsu angkara murkanya. Sunan macam apa itu?

Kalau memang Anda sudah Sunan secara lahir bathin, maka seharusnya berbudi luhur. Anda menyiksa orang tanpa dosa, yaitu karena Anda dihina. Sehingga dengan demikian setelah ini Anda pantas masuk neraka jahanam. Kalau sudah mati, Anda akan tinggal di sana. Dimasukkan kawah air panas yang asapnya melimpah-limpah. Saya ini termasuk golongan makhluk halus, dan berbeda dengan kalian yang manusia.

Karenanya saya ini masih ingat dengan kesejahteraan umat manusia. Ya sudah, apa yang sudah rusak saya minta untuk diperbaikik kembali. Sungai yang surut dan tempat yang rusak diterjang banjir, saya minta dikembalikan seperti asal mulanya. Jika Anda tidak bersedia mengembalikannya, semua orang Jawa yang sudah masuk Islam akan saya santet agar mati semua. Saya tentu juga akan minta bala bantuan dari Ratu Ayu Anginangin di laut selatan.”

Sunan Bonang setelah mendengar nasehat Buta Locaya jadi menyadari kesalahannya karena telah menyebabkan kesengsaraan banyak orang, maka berkatalah ia, “Buta Locaya, saya ini Sunan, tidak dapat menarik kembali ucapanku yang sudah keluar, besok jika telah genap lima ratus tahun, maka sungai ini kembali seperti semula.”

Buta Locaya setelah mendengar penolakan Sunan Bonang menjadi marah kembali, ia mengancam Sunan Bonang, “Harus dikembalikan sekarang juga, jika tidak bisa, maka Anda saya tahan di sini.”

Sunan Bonang berkata pada Buta Locaya, “Sudah, kamu tidak perlu mengajari aku, aku pamit mau ke Magetan, buah sambi ini aku sebut cacil, karena kok seperti anak kecil berkelahi. Makhluk halus dan manusia berkelahi mengadu pengetahuan masalah rusaknya tanah, serta kesengsaraan manusia dan makhluk halus. Saya akan minta pada Tuhan, buah sambi akan menjadi dua warna, dagingnya menjadi masam, bijinya agar keluar minyaknya. Asam itu menjadi lambang ulat masam, karena makhluk halus bertengkar dengan manusia.

Minyak artinya makhluk halus menghalangi perginya manusia. Pada masa mendatang jadilah saksi kalau saya bertengkar dengan kamu. Dan mulai saat ini, tempat ini yang utara namanya desa Singkah, sedangkan yang di sini namanya Sumbre. Sedangkan tempat berkumpulnya pasukanmu di bagian selatan namanya dewa Kawanguran.”

Setelah berkata demikian, Sunan Bonang lalu melompat ke timur sungai. Hingga saat ini di Kutha Gedhah ada desa bernama Kawanguran, Sumbre, dan Singkal. Kawanguran artinya pengetathuan. Singkah artinya menemukan akal budi.

Buta Locaya mengikuti perginya Sunan Bonang. Sunan Bonang tiba di desa Bogem, di sana ia melihat ada patung kuda yang berbadan satu tetapi berkepala dua. Letaknya ada di bawah pohon trenggulun. Buah trenggulun itu banyak sekali hingga menggunung tinggi. Sunan Bonang lalu menghancurkan kepala patung kuda itu.

Setelah melihat Sunan Bonang menghancurkan kepala patung kuda, maka bangkit kembali kemarahan Buta Locaya. Ia berkata, “Itu adalah peninggalan sang Prabu Jayabaya, sebagai lambang tekadnya wanita Jawa. Besok di jaman Nusa Srenggi, siapa saja yang melihat patung itu akan sama-sama memahami tekad para wanita Jawa.”

Sunan Bonang menjawab, “Kamu itu bangsa makhluk halus, kok berani bertengkar dengan manusia. Itu namanya makhluk halus sombong.”

Buta Locaya berkata, “Lalu kenapa memangnya? Anda Sunan, saya raja.”

Sunan Bonang berkata, “Buah trenggulun ini aku namakan kenthos, sehingga menjadi peringatan di masa mendatang kalau aku bertengkar dengan makhluk halus sombong masalah rusaknya patung.”

Ki Kalamwadi menjelaskan, “Hingga sekarang, buah trenggulun namanya kenthos, karena berasal dari sabda Sunan Bonang. Itu adalah pemberitahuan dari guruku Raden Budi Sukardi.”

Sunan Bonang lalu pergi ke arah utara. Pada saat itu telah waktunya salat asar dan ia hendak menunaikan ibadah salat. Di luar desa itu ada sumur, tetapi tidak ada ember untuk menimba air, karena itu Sunan Bonang menggulingkan sumur itu sehingga ia bisa menggambil air dari dalamnya.

Ki Kalamwadi menjelaskan, “Hingga saat ini sumur itu disebut sumur Gumuling. Sunan Bonang yang menggulingkannya. Itu katanya Raden Budi guruku, entah benar entah tidak.”

Setelah salat maka Sunan Bonang meneruskan perjalanannya, dan tiba di desa Nyahen. Di sana ada patung raksasa wanita yang terletak di bawah pohon dadap. Pada saat itu kebetulan pohon dadapnya sedang banya bunganya dan banyak yang berjatuhan di kanan dan kirinya patung raksasa itu sehingga nampak merah merona.

Sunan Bonang melihat arca yang tingginya 16 kaki dan lingkarnya 10 kaki. Apabila diangkat orang 800 juga masih belum terangkat. Bahu kanan patung tersebut dihancurkan oleh Sunan Bonang dan selain itu dahinya juga dirusak.

Buta Locaya mengetahui tindakan Sunan Bonang merusak patung itu, timbul amarahnya kembali, “Anda itu benar-benar orang brengsek. Patung bagus-bagus kok dirusak tanpa sebab. Patung itu adalah peninggalan Sang Prabu Jayabaya, lalu mengapa Anda rusak?”

Jawaban Sunan Bonang, “Arca ini saya rusak supaya jangan disembah- sembah oleh orang banyak, supaya jangan dimantrai. Yang menyembah patung itu namanya kafir. Lahir dan bathinnya tersesat.”

Buta Locaya mengomel lagi, “Orang Jawa itu khan sudah tahu, bahwa itu hanya sebuah arca batu, tidak punya daya apa-apa, tidak punya kekuasaan apa, bukan Hyang Labawalhujwa, karena itu dimantrai dan diberi sesajian, supaya para makhluk halus yang dulunya tinggal di tanah atau kayu – karena tanah dan kayu itu dimanfaatkan bagi manusia – maka para makhluk halus itu diberi tempat tinggal di dalam arca. Anda itu tahu nggak sih?

Sudah wajar kalau para makhluk halus tinggal di gua dan patung. Selain itu mereka makan bau harum. Makhluk halus itu apabila makan bau harum, badannya terasa segar. Mereka betah tinggal di patung- patung batu yang berada di tempat sepi atau yang berada di depan pohon besar. Apakah Anda sudah pernah merasakan hidup di alam makhluk halus yang berbeda dengan alam manusia? Mereka yang hidup di dalam patung baru, Anda siksa, jadi karena itu Anda patut disebut orang jahil. Orang yang gemar berbuat seenaknya sendirinya terhadap sesama makhluk Tuhan. Lebih baik orang Jawa yang menghormati patung demi menguntungkan para makhluk halus, dibandingkan dengan orang Arab yang menyembah Ka’bah. Wujudnya juga tugu batu, sehingga seharusnya mereka juga sesat.”

Sunan Bonang menjawab, “Ka’bah itu ada karena jasanya Nabi Ibrahim, di situ terletak pusatnya bumi. Dibangun tugu dan disembah orang banyak. Siapa saja yang bersujud pada Ka’bah, Allah akan mengampuni dosanya selama hidup di dunia.”

Buta Locaya menjawab dengan marah, “Buktinya apa kalau mereka beroleh pengampunan dosa dari Tuhan, memperoleh pengampunan dari semua kesalahan. Apakah sudah memperoleh tanda tangan dan cap dari Tuhan?”

Sunan Bonang berkata lagi, “Itu semua disebut dalam kitabku. Besok kalau meninggal akan beroleh kemuliaan.”

Buta Locaya menjawab dengan tidak senang hati, “Ketahuilah, kemuliaan yang ada di dunia ini sudah ternoda, orang tersesat menyembah tugu batu, ketika mereka sudah melakukan kejahatan. Di Gunung Kelut banyak batu besar-besar hasil ciptaan Tuhan, kesemuanya itu terwujud berdasarkan Sabda Allah, itulah yang sesungguhnya lebih pantas disembah. Berdasarkan izin Yang Maha Kuasa, seluruh umat manusia harus mengetahui mengenai Ka’bah sejati, tubuh manusia itulah Ka’bah sejati. Sejati karena ciptaannya Yang Maha Kuasa. Inilah yang harus diperhatikan. Siapa yang sadar akan asal usulnya, mengetahui akal budinya, yaitu yang sanggup dijadikan suri tauladan.

Meskipun siang dan malam menjalankan salat, tetapi apabila pikirannya gelap, pengetahuannya amburadul, menyembah tugu batu yang dibuat nabi. Nabi itu khan juga manusia kekasih Allah, diberi wahyu sehingga menjadi pandai dan sanggup mengetahui apa yang akan terjadi. Sedangkan yang membangun arca batu itu adalah Prabu Jayabaya, yang juga merupakan kekasih Allah.

Ia juga menerima wahyu mulia, juga banyak pengetahuannya dan sanggup mengetahui apa yang akan terjadi. Anda berpedoman pada kitab, sedangkan orang Jawa berpedoman pada sastra kuno, petuah dari leluhur sendiri. Lebih baik mempercayai sastra kuno dari leluhur sendiri yang peningggalannya masih dapat disaksikan. Orang mempercayai kitab Arab, padahal belum tahu keadaan di sana, entah benar entah salahnya, hanya percaya perkataannya para penipu.

Anda menjual kemuliaannya negeri Mekah. Padahal saya tahu seperti apa sebenarnya Mekah. Tanahnya panas, susah air, tanaman tidak bisa tubuh, serta jarang hujan. Orang yang sanggup bernalar akan menyebut Mekah itu negeri celaka. Malah banyak orang yang diperjual-belikan sebagai budak. Anda itu orang durhaka.

Saya minta untuk pergi dari sini, negeri Jawa yang suci dan mulia, cukup hujan dan air, apa yang ditanam dapat tumbuh, yang pria tampan, yang wanita cantik. Bicaranya juga luwes. Kalau Anda bicara masalah pusatnya jagad, maka tempat yang saya duduki inilah yang merupakan pusat jagad. Silakan Anda ukur, bila salah pukullah saya.

Anda itu seperti orang tidak waras, pertanda kurang nalar, kurang memakan pengetahuan akal budi, senang menyiksa orang lain. Yang membuat arca itu Maha Prabu Jayabaya, yang kesaktiannya melebihi Anda. Anda apa sanggup mengetahui apa yang akan terjadi? Sudahlah, saya minta Anda pergi saja dar sini. Jika tidak mau pergi dari sini, maka akan saya panggilkan adik saya dari Gunung Kelut. Anda saya keroyok apa bisa menang? Lalu akan saya bawa ke dalam kawah Gunung Kelut. Apakah Anda tidak sengsara? Apakah Anda ingin berdiam dalam batu seperti saya? Kalau mau silakan datang ke Selabale, jadi murid saya!”

Sunan Bonang berkata, “Saya tidak mau mengikuti perkataanmu, wahai setan iblis.”

Buta Locaya menjawab, “Meskipun saya makhluk halus, tetapi raja makhluk halus. Mulia dan abadi selamatnya. Anda belum tentu mulia seperti saya. Niat Anda buruk, gemar menyiksa orang lain. Oleh karena itu Anda datang ke tanah Jawa. Di Arab Anda tergolong orang hina. Jika Anda orang mulia maka tidak akan pergi meninggalkan Arab, karena salah maka melarikan diri dari sana. Buktinya di sni membuat onar, menghina adat istiadat orang lain, menghina agama, merusak barang yang bagus, mengharubiru agama leluhur kuno. Raja wajib menyiksa dan membuang Anda.”

Sunan Bonang berkata, “Pohon dadap ini bunganya aku beri nama celung, buahnya kledhung, karena aku kalah nalar dan kalah pembicaraan. Jadilah saksi bila aku bertengkar dengan raja makhluk halus dan kalah pengetahuan serta nalar.”

Oleh karena itu hingga sekarang, buah dadap, namanya kledhung, bunganya dinamakan celung.

Sunan Bonang lalu berpamitan, “Sudah saya akan pulang ke Bonang.”

Buta Locaya menjawab dengan marah, “Ya sudah, pergilah cepat-cepat. Di sini membuat susah saja. Makin lama makin membuat susah saja. Membuat susah air, menyebabkan kekeringan.” Sunan Bonang meninggalkan tempat itu dan Buta Locaya beserta pasukannya juga pulang meninggalkan tempat itu.

Tak Setuju Serbu Majapahit, Syech Siti Jenar Dibunuh

Prabu Brawijaya amat murka ketika mendapat laporan sang Patih tentang adanya surat dari Tumenggung di Kertosono, yang memberitahukan bahwa telah terjadi kerusakan di wilaya itu akibat ulah Sunan Bonang. Segera ia mengutus Patih ke Kertosono, meneliti keadaan sebenarnya.

Setelah tiba, Sang Patih melaporkan semua yang telah terjadi. Namun, ia tak bisa menemukan Sunan Bonang, karena telah mengembara tak tahu kemana.


Berikut babak lanjutan dari Serat Darmogandhul


Saking murkanya, Prabu Brawijaya mengharuskan semua ulama Arab yang ada di Pulau Jawa pergi. Hanya di Demak dan Ngampelgading saja yang diperbolehkan tinggal dan meyebarkan agama Islam. Apabila menolak akan dibunuh.

Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh Patihnya, karena ulama Giripura telah tiga tahun tidak menghadap untuk menyampaikan upeti, bahkan mendirikan kerajaan sendiri. Sedang ulama santri Giri punya gelar yang melebihi sang Prabu. Maka, diseranglah Giri hingga kocar-kacir.

Menyadari kekeliruannya karena tidak menghadap Majalengka, Sunan Bonang mengajak Sunan Giri ke Demak. Di sana, mereka menyatu dengan pasukan Adipati Demak dan mengajak menyerbu ke Majalengka.

Kata Sunan Bonang, ” Ketahuilah, kini saatnya kehancuran kerajaan Majalengka yang telah berumur 103 tahun. Menurut pertimbanganku, kamulah yang berhak menjadi Raja. Rusaklah Kraton Majalengka dengan cara halus.

Jangan sampai ketahuan. Menghadaplah ke Ayahandamu pada acara Grebeg Maulud dengan senjata perang. Ajaklah seluruh Bupati dan para Sunan beserta bala tentaranya.”

Provokasi

Adipati Demak yang memang putra Prabu Brawijaya semula tidak mau mengikuti saran Sunan Bonang.

” Saya takut merusak negeri Majalengka. Melawan ayah, apalagi melawan seorang raja yang telah memberikan kebahagian dan kebaikan di dunia. Kata Kakek saya di Ampelgading, saya tidak boleh melawan ayahanda meski beragama Budha atau pun kafir.”

Mendengan jawaban demikian, Sunan Bonang berkata, ” Meskipun melawan ayah dan raja, tidak ada jeleknya kerena dia kafir. Merusak kafir tua kamu akan masuk surga.

Kakekmu itu santri yang iri, gundul dan bodoh tak bernalar. Seberapakah pengetahuan santri Ngampelgading. Anak kelahiran Campa tak mungkin menyamaiku Sayid Kramat, Sunan Bonang yang dipujikan manusia sedunia, keturunan rasul anutan semua umat Islam.

Meski kamu dosa, toh hanya kepada satu orang. Tetapi, semua manusia se Jawa masuk Islam. Hal demikian, alangkah banyaknya pahala yang kau terima.

Tuhan masih cinta kepadamu. Sesungguhnya, orang tuamu itu menyia-nyiakan dirimu. Buktinya, kamu diberi nama Babah.

Babah itu artinya tidak baik. Hidup hanya untuk mati. Benih Jawa yang dibawa Putri Cina.

Maka ibumu diberikan kepada Arya Damar, Bupati Palembang, orang keturunan raksasa. Itu memutus cinta namanya. Ayahmu tetap berhati tidak baik.

Karena itu, balaslah dengan halus. Pokoknya jangan kelihatan. Dalam hati, isaplah darahnya, kunyahlah tulangnya.”

Kemudian, Sunan Giri menyambung, ” Aku tidak berdosa, dicari ayahmu didakwa mendirikan kerajaan karena aku tidak menghadap ke Majalengka. Katanya, bila aku tertangkap akan diikat rambutku dan disuruh memandikan anjing.

Banyak orang Cina yang datang ke Jawa. Di Giri banyak yang ku-Islamkan. Sebab, menurut Qur-an, bila meng-Islamkan orang kafir, kelak mendapatkan surga.

Kedatanganku ke sini untuk minta perlindunganmu. Aku takut kepada patih dan ayahmu yang sangat benci kepada santri yang suka berzikir. Katanya, sakit ayan pagi dan sore. Bila kamu tidak membela, rusaklah agama Islam ini.”

Jawab sang Adipati Demak,

” Ayahanda memburu tuan itu betul. Karena tuan Sunan mendirikan kraton. Tidak menyadari bahwa hal itu harus tunduk perintah raja yang lebih berkuasa. Maka, sudah sewajarnya bila diburu, dihukum mati, karena Sunan tidak meyadari makan minum di Pulau Jawa.”

Namun, Sunan Bonang berkata lagi, “Jika tidak kau rebut sekarang, kau akan rugi. Setelah ayahmu turun, tahta itu tentu bukan untukmu melainkan diserahkan kepada Adipati Pranaraga karena dia putra paling tua. Atau kepada menantunya, Ki Andayanigrat di Pengging.

Kamu anak muda, tidak berhak menjadi raja. Mati melawan kafir mati sabilillah, mati menerima surga. Sudah biasa bagi orang Islam dalam melawan orang kafir. Aku sudah tua, ingin menyaksikan dirimu menjadi raka, merestui kedudukanmu sebagai raja di Jawa, memimpin rakyat Jawa, memulai agama suci, dan menghilangkan agama Budha.”

Panjang lebar nasihat Sunan Bonang agar Adipati Demak bangkit amarahnya, dan mau merusak Majalengka. Bahkan, diberi contoh kisah-kisah nabi yang mau melawan orang tuanya karena kafir.

Syech Siti Jenar Dibunuh

Singkat cerita, tak lama kemudian para sunan dan bupati di pesisir utara datang semua ke Demak. Berkumpul untuk mendirikan masjid. Kemudian sembahyang bersama di masjid yang beru didirikan. Usai sembahyang pintu masjid ditutup.

Sunan Bonang berkata kepada semua yang hadir di situ, bahwa Bupati Demak akan dinobatkan sebagai raja dan akan menggempur Majapahit. Bila semua setuju akan segera dimulai. Semua sunsn dan bupati setuju.

Hanya Syech Siti Jenar yang tidak. Maka, Sunan Bonang marah dan menghukum mati Syech Siti Jenar. Yang disuruh membunuh adalah Sunan Giri. Setelah sepakat, Adipati Demak diangkat menjadi raja menguasai tanah Jawa bergelar Senapai Jimbuningrat dengan patih dari atas angin bernama Patih Mangkurat.

Esok harinya, Senopati Jimbuningrat bergegas dengan perangkat senjata perang berangkat menuju Majapahit diiringkan para sunan dan bupati. Berjalan berarakan seprti Grebeg Maulud. Semua pasukan tak ada yang mengetahui tujuan itu selain para tumenggung, para sunan dan para ulama.

Sunan Bonang dan Sunan Giri tidak ikut dengan alasan telah lanjut usia. Keduanya hanya akan salat di dalam masjid dan merestui perjalanan. Bagaimana cerita di perjalanan tidak dijelaskan panjang lebar.

Terjadi Peperangan

Alkisah, sepulang dari Giri sang Patih melaporkan hasil penaklukan terhadap Giri yang dipimpin oleh orang Cina beragama Islam bernama Setyasena. Ia membawa senjata pedang bertangkai panjang. Pasukannya berjumlah tiga ratus yang pandai bersilat dengan kumis panjang berkepala gundul, berpakaian serba seperti haji.

Dalam berperang mereka lincah seperti belalang. Sementara pasukan Majapahit menembaki. Akibatnya, pasukan Giri tampak jatuh berjumpalitan tidak mampu menerima peluru.

Senapati Setyasena menemui ajal.

Pasukan Giri melarikan diri ke hutan dan gunung. Sebagian juga berlayar dan lari ke Bonang dan terus diburu oleh pasukan Majapahit. Sunan Giri dan Sunan Bonang yang ikut dalam perahu itu dikira melarikan diri ke Arab dan tidak kembali ke Majapahit.

Maka Sang Prabu memerintahkan patih untuk mengutus ke Demak lagi, memburu Sunan Giri dan Sunan Bonang karena Sunan Bonang telah merusak tanah Kertosono. Sedangkan Sunan Giri telah memberontak, tidak mau menghadap raja, bertekat melawan dengan perang.

Sang Patih keluar dari hadapan Raja untuk kemudian memanggil duta yang akan dikirim ke Demak. Tetapi, tiba-tiba datang utusan dari Bupati Pati menyerahkan surat terkenal dengan Menak Tanjangpura ) mengabarkan bahwa Adipati Demak Babah Patah telah menobatkan diri sebagai Raja Demak.

Sedangkan yang mendorong penobatan itu adalah Sunan Bonang dan Sunan Giri. Para Bupati di Pesisir Utara dan semua kawan yang sudah masuk Islam mendukung. Raja baru itu bergelar Prabu Jimbuningrat atau Sultan Syah Alam Akbar Khalifaturrasul Amirilmukminin Tajudil Abdulhamid Khak, atau Sultan Adi Surya Alam di Bintoro.

Pasukannya berjumlah tiga puluh ribu lengkap dengan senjata perang, terserah kepada Patih cara menghadap kepada raja. Surat dari Pati itu bertanggal 3 Maulud tahun Jimakir 1303 masa kesembilan wuku Prabangkat. Kyai Patih sedih sekali, menggeram sambil mengatupkan giginya.

BERSAMBUNG PART 2

Jika Anda penasaran dengan dunia spiritual, silahkan hubungi kami di nomor 0816577880 DEVI

Energi Manusia Dan Meditasi Suwung

Assalamualaikum salam rahayu. Jika kita berbicara tentang meditasi, kita langsung memikirkan tentang ketenangan jiwa, adem ayem lan tentrem. Namun, meditasi pada hakikatnya adalah penghimpunan energi dalam tubuh kita yang bisa digunakan untuk berbagai aktivitas.

Kta mulai secara lebih terperinci membahas energi. Energi adalah realitas nonfisik yang bagi masyarakat jawa hanya bisa difahami keberadaanya melalui tanda tanda yang muncul. 

Namun, bagi orang tertentu (mata batin terbuka) energi bisa dilihat dan disentuh. Energi adalah daya, yang membuat segala sesuatu dapat digerakan dari proses penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan daya tersebut, 

Dalam kaitan tentang spiritual, perlu saya ulas disini tentang keberadaan energi yang ada dalam diri yang dibagi dalam beberapa tingkatan.

Dengan demikian, Anda bisa tahu dan faham tentang keberadaan mahadaya didalam diri.

Ciri Ciri Energi Dalam Tubuh

Mari kita mulai dengan mencermati energi pada diri manusia: bagaimana Anda mengangkat Handphone? Tentu, Anda menggunakan energi yang terbentuk lewat proses metabolisme tubuh, dan tersimpan dalam otot.

Itulah energi fisik. Terbentuk setelah kita makan, dan semakin kuat saat kita menolah fisik. Dengan latihan tertentu, seorang bisa melipatgandakan kekuatan fisik tersebut.

Bentuk lainnya adalah energi fikiran, yang di antaranya mengejawantah sebagai daya cipta. Dengan kekuatan pikiran, seseorang dapat mewujudkan keinginannya. Contohnya para pesulap. 

Jika kita mencermati fenomena santen dan pelet, dimana seseorang bisa merusak tubuh dan mengendalikan pikirannya. Hal itu sering kita kenal dengan energi metafisik yang berkolaborasi dengan mahluk astral atau perewangan khodam.

 

Waktu Paling Mustajab Untuk Menggunakan Ilmu Pengasihan

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang memfungsikan suatu mahabah yang ditujukan untuk mendapatkan suatu perhatian dan kehormatan khusus tersendiri, baik sesama jenis maupun lawan jenis. Namun, waktu yang tepat untuk mengamalkanya belum ada yang tahu pastinya.

Sebelum pada pokok pembahasan, saya ingin membahas tentang tujuan menggunakan suatu mahabah yang dikenakan pada sasaran lawan jenis biasanya cenderung kepada problem suatu asmara, yang dilandasi dengan rasa ingin memiliki dan mendapat perhatian yang khusus dari pada yang lain, tetapi jika digunakan kepada sesama jenis biasanya untuk mendapatkan rasa simpati dan mempunyai perasaan terpesona dengan etika orang tersebut.

Disini akan diberikan suatu wawasan atau gambaran yang tepat atau mendekati kehandalan dalam menggunakan mahabah yang akan ditujukan kepada seseorang yang menjadi sasaran tersebut.

Sebab didalam waktu satu hari tiap-tiap jam itu selalu berubah posisi, saatnya juga berbeda dengan sasaran yang hendak ditujunya.

Penjelasan Lengkapnya

Menurut hitungan saya, mendefinisikan waktu yang mustajabah didalam menggunakan mahabah harus tepat pada waktu yang handal, yaitu waktu yang paling tepat dalam memfungsikan mahabah untuk mendapatkan perhatian khusus cinta (asmara). 

Ketika Anda melihat kata “Asmara” pada tabel jam diatas. Maka itulah waktu yang tepat mengamalkan ilmu pengasihan.

Sedangkan jam-jam yang ditandai dengan kode yang lain, arti penggunaannya pun juga berbeda-beda sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Karena pada jam yang ditandai dengan “Asmara” saat itulah yang berkuasa penuh didalam diri seseorang adalah “Sang Mutmainah” yaitu nafsu yang menguasai keinginan yaitu dititik beratkan pada bidang “Asmara” diantara keempat saudara (sedulur papat) yang berada pada diri manusia tiada lain yang disebut nafsu 4 perkara, penguasaan itu dalam lingkup satu hari semua nafsu mempunyai peran dan kesempatan untuk murba pada diri atau sang raga.

Keterangan yang sayaungkapkan tersebut berdasar “kitab primbon, betaljemur” yang dikarang oleh satriya tanah jawa yang telah mencapai pada tataran dalam kesempurnaan dalam hidupnya yang kita kenal dengan sebutan “Pujangga” juga memiliki keahlian yang disebut “hastha warna”.

Nah, bagi Anda yang tidak mempunyai waktu dan tidak ingin menunggu lama mengamalkan ilmu pengasihan. Maka Anda bisa menggunakan sarana pengasihan yang saya hadirkan untuk memikat lawan jenis. 

Untuk itu, silahkan hubungi kami pada nomor 0816577880 Devi atau silahkan hubungi saya langsung di nomor 0816340611. Salam rahayu

Baca Juga:

Mitos Weton Ketemu 24

Mitos Weton Ketemu 24 – Dalam budaya Jawa, tradisi dan warisan leluhur sangat dihargai masyarakatnya. Begitu juga tentang tindakan yang harus sesuai dengan adat. Termasuk pernikahan. Pernikahan Jawa boleh dilakukan jika memenuhi berbagai syarat yang sudah ada, dimana salah satunya adalah perhitungan weton.

Jika hitungan weton kedua pasangan tidak cocok maka orang tua akan melarang berlangsungnya pernikahan tersebut. Lalu bagaimana jika keduanya sudah saling mencintai dan mantap menikah namun terhalang weton yang tidak cocok hitungannya? Mari saya jelaskan hal paling umum saja. Banyak yang bertanya kepada kami tentang Mitos Weton Ketemu 24.

Mitos Weton Ketemu 24 merupakan penjumlahan dari neptu kedua pasangan yang jumlahnya 24. Nah, untuk mitos 24 sendiri dikatakan tibo loro (sakit). Jadi banyak yang takut untuk melanjutkan pernikahan.

Namun, disetiap ada masalah tentunya ada solusinya.

Bagaimana Solusi Weton Jodoh Ketemu 24?

Ada banyak solusi dari masalah weton jodoh ketemu 24 ini. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa simak penjelasan Mitos Weton Ketemu 24 yang dijelaskan oleh Ki Bagus Wijaya.

Nah, jika anda masih merasa takut gunakanlah cara RUWATAN sebelum pernikahan untuk menghindari kesialan dan malapetaka yang mengancam. Untuk lebih lengkapnya silahkan hubungi kami untuk panduan ruwatan di nomor 0816577880 DEVI.

Cara Mempertahankan Jabatan dari Ancaman Saingan

Jabatan atau posisi seseorang yang sudah tinggi dalam perusahan mampu membuat banyak saingan menjadi iri. Tak ayal banyak yang berusaha menurunkan jabatan Anda sekarang, ada yang menggunakan cara licik, cara prestasi maupun fitnah.

Namun, ada juga cara yang dipilih saingan yaitu menggunakan guna guna atau ilmu ghaib. Semuanya ditujukan agar Anda bisa turun dari jabatan Anda sekarang.

Silahkan simak video berikut agar Anda bisa mempertahankan jabatan Anda;

Semoga informasi kali ini bisa menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan apabila Anda membutuhkan sarana atau konsultasi seputar jabatan, silahkan hubungi +62816577880 Devi.

5 Jenis Pring Bertuah Paling Sakti

Berikut ini adalah penjelasan Ki Bagus Wijaya tentang 5 Jenis Pring Bertuah Paling Sakti. Semoga dengan video penjelasan ini bisa menjadi ilmu yang bermanfaat.