Martabat Wahadiyah – Tingkatan Martabat Tujuh

Home  >>  Ilmu Islam Kejawen  >>  Martabat Wahadiyah – Tingkatan Martabat Tujuh

Martabat Wahadiyah – Tingkatan Martabat Tujuh

On December 17, 2016, Posted by , in Ilmu Islam Kejawen, Kejawen, tags , , With Comments Off on Martabat Wahadiyah – Tingkatan Martabat Tujuh

Martabat Wahadiyah adalah Wahadiyah atau yang biasa diungkapkan dengan kata-kata A’yan Thabitah (realitas-realitas terpendam). Pada tingkatan ini, Zat-Nya ber-tajjali lewat nama-namaNya yang dikenal dengan Asma’ul Husna, di mana Tuhan mulai muncul dalam al-A’yan Thabitah atau realitas-realitas terpendam yang sudah tidak mengandung kejamakan.

Di sini, segala sesuatu yang terpendam sudah dibedakan dengan tegas dan terperinci, meskipun Zat-Nya belum muncul dalam wujud kenyataan. dalam Serat Wirid Hidayat Jati tertulis, “Miratul Haya’i, artinya kaca wara’i. Diceritakan di dalam Hadits, bila alam tersebut terdapat di depan Nur Muhammad. Itulah hakikat pramana, yang disebut rahsa zat, sebagai asmanya atma dan menjadi tempatnya alam wahadiyah.

Martabat Wahadiyah Tentang Syahadat dan Asmaul Husna

Di dalam Martabat Wahadiyah, Allah berada dalam kesejatian-Nya yang dikenal dengan ucapan Tiada Tuhan selain Allah. Persaksian eksistensi-Nya adalah hal yang berada dalam kedudukan yang tertinggi. Wujud Tuhan masih dalam kekosongan yang mutlak, meski Allah sudah mulai memberikan pengetahuan lewat nama-nama-Nya satu per satu.

Dalam kalimat persaksian tersebut, keluhuran-Nya terbagi dalam dua pengetahuan. Persaksian yang pertama mengandung syahadat tauhid, sedangkan yang kedua adalah syahadat rasul. Pengertian syahadat tauhid berbunyi, ‘Ashadu ala iIIaha iIIallah’, yang bermakna saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Kalimat ini sering disebut dengan kalimat takwa. Allah adalah al-Falakiyyah al-Huliyyah, yaitu, eksistensinya berada dalam tahap tertinggi. Dia adalah kehidupan yang tertinggi.” Masih menurut Serat Wirid Hidayat Jati, tajjali Allah yang ketiga adalah Mir’atul Haya’i yang tercipta dari alam Nur Muhammad. Maka, dalam alam Mir’atul Haya’ i yang dipersamakan dengan pramana, sir, atau rahsa disebut juga sebagai tajjali dari alam Nur Muhammad.

Pramana atau sir adalah suatu zat yang berada di dalam tubuh manusia. Zat tersebut tiada turut bersedih, susah, makan dan minum, ataupun segala kegiatan yang berwujud fisiko Makanan danminuman utama pra,,?ana adalah dzikir atau menciptakan rasa ingat kepada Allah dengan melakukan doa-doa atau halhal yang bersifat religius.

Baca Juga: Martabat Wahidiyah Tingkatan Martabat Tujuh

Pada dasarnya, fungsi utama pramana di dalam tubuh adalah untuk menegakkan jasmani. Jadi, apabila pram ana berpisah dengan tubuh, maka tubuh akan menjadi lemah dan lemas, tidak berdaya apa-apa. Hal ini disebabkan pramana adalah rahsa zat, dan pramana mendapat hidup dari Nur Muhammad yang dijadikan sebagai perantaranya hayyu.

Demikian penjelasan saya Martabat Wahadiyah, semoga dapat memeberikan Anda ilmu yang bermanfaat. Wassalam.

share di sini Ya...
Comments are closed.
WhatsApp chat